Bastian Chapter 133
- Crystal Zee

- 21 Des 2025
- 5 menit membaca
Hadiah
Sandrine meletakkan cangkir tehnya. Ia duduk di area luar sebuah kedai teh kecil yang berhadapan langsung dengan Galeri Linder, tempat pameran lukisan Franz Klauswitz digelar.
Para tamu mulai berdatangan, tak sabar menanti upacara pembukaan. Di antara kerumunan, tampak para jurnalis dan kritikus dari berbagai surat kabar terkemuka—semuanya orang-orang yang diundang Sandrine secara pribadi.
Waktu yang tersisa tinggal tiga puluh menit lagi. Sandrine menghitung mundur setiap detiknya sambil perlahan menyesap teh.
Franz akan menjadi satu-satunya seniman yang absen dalam presentasi tersebut, seolah dia telah jenuh memerankan sosok pelindung bagi para seniman miskin. Ia dipanggil untuk perjalanan bisnis bersama ayahnya dan kemungkinan besar masih berada di Felia.
Franz memang tidak menghentikan pendanaan, namun tetap saja mengecewakan mengetahui bahwa ia tidak akan hadir untuk menyaksikan tontonan besar ini.
Kecemasan adalah benih yang melahirkan kegelisahan baru, dan tidak ada emosi yang bisa menghancurkan seseorang secepat rasa cemas—persis seperti yang sedang dialaminya saat ini.
Sandrine mengambil tanggung jawab untuk melindungi para seniman yang merasa telah ditelantarkan. Hanya butuh waktu kurang dari tiga hari bagi para pelukis tersebut untuk berbalik melawan Franz.
Namun, tidak masalah; karya-karya mereka yang provokatif telah terpajang sepenuhnya, sementara Franz yang bodoh masih menganggap mereka sebagai teman.
Franz tidaklah buas seperti ayahnya, tidak pula cerdik seperti ibunya. Sungguh tak disangka, ia bisa mengalahkan Bastian dalam perebutan tender kereta api. Bastian kalah dari seseorang yang hanya modal gertakan sang ayah dan ketamakan sang ibu.
Sandrine yakin kekalahan Bastian disebabkan oleh perhatiannya yang teralihkan akibat menghilangnya Odette. Saat ini, keluarga Klauswitz pasti tengah merayakan kemenangan kecil, tetapi segalanya akan segera berubah.
Rasa bosan mulai menggerogoti Sandrine selagi menunggu pameran dibuka. Ia meraih sebatang rokok dan menyulutnya tepat saat kerumunan yang mengantre mulai menampakkan kegembiraan yang meluap-luap.
Sembari mengamati mereka dan mengembuskan asap rokoknya, ia merasakan sekelumit penyesalan karena Bastian tidak berada di sini secara langsung untuk menyaksikan penyingkapan besar dengan mata kepalanya sendiri.
"Ini semua berkat bantuan Countess," ujar Theodora, "dan meski hanya sebuah bingkisan kecil, ini hadiah yang dipersiapkan dengan penuh rasa syukur."
Theodora menundukkan kepala sembari menyerahkan perhiasan yang telah disiapkannya, berusaha keras melupakan perselisihan terselubung yang sempat ia alami dengan Countess Klein.
Pikiran bahwa putri dari Countess Klein yang sombong adalah donatur utama yang membantu Franz mengalahkan putra Sophia, Bastian, memaksa Theodora untuk sedikit merendahkan hati.
"Aku sangat senang mendengar keberhasilan Franz. Dan sekarang setelah dia membuktikan diri sebagai pengusaha yang jeli, apakah berarti kita akhirnya akan segera melihat Ella mengenakan gaun pengantin?" ujar Countess Klein sembari mengamati perhiasan.
"Tentu saja. Aku membayangkan betapa indahnya menjadi pengantin di musim semi. Bagaimana menurutmu?"
"Terdengar tidak buruk sama sekali. Memang akan terasa sedikit terburu-buru, tetapi putriku sudah bertunangan begitu lama, kurasa tidak akan ada banyak masalah."
"Franz pemuda yang sangat bertanggung jawab," sahut Theodora, "dan kurasa dia tidak menyukai ide untuk menikah sebelu benar-benar siap menjadi seorang suami. Itu menunjukkan betapa dia sangat menghargai Ella."
"Bagaimana menurutmu, Ella?" tanya Countess seraya berbalik untuk menunjukkan kotak perhiasan itu kepada putrinya.
"Seperti biasa, aku akan mengikuti saran Ibu," jawab Ella, yang wajah cemberutnya seketika berubah menjadi senyuman.
Theodora mengambil kesempatan itu untuk menyelipkan satu perhiasan terakhir ke tangan calon menantunya.
"Oh ya ampun, bros yang cantik sekali," ujar Ella seraya menerima hadiah itu dengan penuh terima kasih.
"Kau telah melalui banyak hal, dan aku sangat bersyukur Franz memiliki pendamping yang baik sepertimu. Kau anugerah bagi keluarga kami."
Setidaknya, pujian terakhirnya tulus. Pernikahan ini pasti sudah hancur jika bukan karena cinta buta Ella kepada Franz.
Sejak Odette menghilang, Franz tampak kehilangan minat, seolah-olah ia telah melupakan wanita itu sepenuhnya.
Theodora sempat mengira Franz akan memetik pelajaran berharga dari kejadian ini. Namun, andai pun tidak, Theodora sudah bertekad untuk tetap melangsungkan pernikahan—bahkan jika ia harus menyeret Franz secara paksa ke altar.
"Nyonya, Nyonya!" seorang pelayan menerjang masuk ke dalam ruangan.
"Ada tamu di sini, dasar tidak sopan!" tegur Countess dengan wajah yang memerah karena malu.
"Ada telepon mendesak untuk Anda, Nyonya."
Pelayan itu tidak gentar oleh teguran keras sang Countess. Countess Klein pun meninggalkan ruangan untuk menerima telepon tersebut.
Theodora merasa tidak senang karena telah diabaikan, tetapi berhasil menjaga ketenangannya demi Franz.
Tak lama kemudian, Countess Klein kembali, bahkan sebelum Theodora dan Ella sempat memulai percakapan tentang gaun pengantin.
"Beraninya kau!" bentak Countess tiba-tiba, wajahnya merah padam karena amarah.
Countess Klein menyambar semua hadiah yang dibawa Theodora dan melemparkannya ke lantai.
Ella menatap ibunya dengan ekspresi terkejut saat bros di tangannya direnggut paksa dan dicampakkan ke dalam perapian.
"Aku tidak mengerti apa yang Anda bicarakan, mengapa Anda bersikap gila seperti ini?" tanya Theodora, mencoba memahami apa yang tiba-tiba berubah.
Apa sebenarnya isi percapakan saat telepon mendesak tadi?
"Putramulah yang gila!" teriak Countess dalam kemarahan yang meluap. "Seharusnya aku tidak pernah menjodohkan putriku dengan binatang kotor itu. Dia pria kecil yang menjijikkan."
"Countess, tenanglah dan jelaskan. Aku tidak mengerti."
"Oh, benarkah? Kalau kau penasaran, pergilah ke Galeri Linder dan saksikan sendiri. Keluar dari rumahku! Aku tidak ingin melihatmu di sekitar putriku lagi!"
Countess Klein mencengkeram pergelangan tangan Ella dan menyerbu keluar dari ruang tamu, meninggalkan Theodora sendirian.
Theodora membereskan barang-barangnya, tubuhnya gemetar karena hinaan itu, dan ia berjuang keras menahan dorongan untuk mengejar sang Countess.
Alih-alih melakukannya, Theodora mengalihkan perhatiannya ke Galeri Linder. Sepertinya itu tempat yang lebih logis untuk dituju demi melihat sendiri apa sebenarnya yang sedang terjadi.
"Pengawalan yang diminta oleh kepolisian akan segera tiba. Sampai saat itu, sebaiknya Anda menunggu di sini," ujar kondektur.
Bastian mengintip melalui celah tirai untuk melihat apa yang terjadi. Para jurnalis dengan kamera mereka mengepung kereta, dan bahkan jika bisa melewati mereka, masih ada kerumunan besar yang memadati area luar stasiun.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bastian.
"Ah, saya merasa tidak nyaman membicarakannya di sini," jawab sang kondektur. Ia tampak melirik ke arah Odette.
Dengan perasaan frustrasi, Bastian berdiri dan meninggalkan kompartemen, membiarkan Odette sendirian dalam keheningan.
Didorong rasa penasaran, Odette bangkit dan melihat ke luar jendela sendiri. Ia bisa merasakan hawa kegembiraan yang panas dari kerumunan di luar.
Namun, yang mengejutkannya, mereka meneriakkan namanya—tapi bukan dengan cara yang baik; namanya disandingkan dengan sumpah serapah.
Rasa cemas menjalar dalam dirinya saat ia mundur menjauhi jendela. Bastian kembali, tetapi Odette tidak menyadarinya; jantungnya berdegup kencang dan bising di telinganya.
Bastian berdiri dan menatapnya. Odette tidak memiliki keberanian untuk bertanya tentang apa yang terjadi. Bastian hanya berdiri di depannya, bibirnya terkatup rapat.
"Petugas telah tiba," ujar kondektur tanpa membuka pintu kompartemen.
Tiupan peluit yang melengking bergema di sepanjang peron, diikuti teriakan kemarahan dan kebisingan polisi yang mencoba membubarkan massa.
Setelah berhasil meredam emosinya, Bastian menyambar mantelnya dan menyampirkannya ke tubuh Odette.
Tidak mungkin ia membiarkan wanita lusuh ini terekspos di depan kerumunan. Bahkan jika Odette berpakaian seperti ratu sekalipun, ia akan tetap melakukan hal yang sama.
"Diamlah, jangan bergerak sama sekali," perintah Bastian sambil mengangkat tubuh Odette. "Jangan biarkan sehelai rambut pun terlihat."
Dengan Odette dalam dekapannya, Bastian bergegas keluar dari kabin.
Suara bising dan kilatan cahaya lampu kilat menyongsong layaknya ombak yang mengamuk begitu Bastian menginjakkan kaki di peron.
Di tengah tatapan dingin yang tak kenal ampun dan ejekan yang mencemooh, Bastian terus melangkah menyusuri peron dengan istri dalam dekapannya, melindunginya dari mata publik yang haus akan skandal.
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar