top of page

Bastian Chapter 132

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 20 Des 2025
  • 5 menit membaca

Tempat Hilangnya Tuhan dan Takdir

Odette membeli tiket untuk kereta pertama yang meninggalkan stasiun. Kereta yang menuju Lechen.

Desakan untuk segera pergi mendorongnya masuk ke dalam gerbong tanpa sempat melirik tiketnya untuk kedua kali. Kesadaran bahwa ia tengah menuju negara asing mengirimkan rasa dingin yang menjalar di punggungnya, namun ia tidak punya pilihan lain.

Dan pria itu ada di sana.

Luka parut di pipinya tampak sangat mencolok. Odette pernah berpapasan dengannya di kereta saat menuju Felia, lalu bertemu lagi belum genap satu jam yang lalu di stasiun trem.

Menjadi sangat jelas bahwa Bastian telah memata-matai setiap langkahnya. Seharusnya ia sadar; mengapa ia baru menyadarinya sekarang?

Dengan kaki yang goyah, Odette melangkah masuk ke dalam kompartemen. Suara tawa dan obrolan memenuhi udara, berpadu dengan ketukan ritmis air hujan pada jendela.

Sembari merosot ke kursi, Odette memindai setiap wajah yang tertangkap matanya. Fakta bahwa ia tidak melihat pria itu di mana pun sama sekali tidak menenangkannya.

Odette pergi selama lebih dari sebulan dan tidak pernah sekalipun melihat pria itu. Mungkin saja dia masih mengawasinya bahkan sampai detik ini.

Sambil mendekap Margrethe erat-erat, ia memohon dalam hati agar kereta segera melaju.

Melarikan diri dari kota ini telah menjadi kebutuhan yang mendesak dan menghimpit hatinya. Ia harus pergi melampaui batas kota, untuk menenangkan diri dan menyusun langkah berikutnya dengan matang.

Jadi, kumohon... 

Odette berdoa kepada Tuhan yang tak berbelas kasih, yang mengendalikan takdirnya yang terkutuk. Ia memohon ampunan sampai isaknya pecah tak tertahankan.

Peron mulai menjauh. Sepertinya doa-doanya terkabul saat ia menyadari kereta telah bergerak, namun kemudian derit rem yang memekakkan telinga membelah udara. Kereta berhenti secara mendadak.

Odette dengan panik mengusap embun yang mulai menebal di kaca dan menatap ke arah peron.

Sekelompok pria berbaris dengan penuh tekad, dipimpin oleh seorang pria tertentu di barisan depan. Kengerian mencengkeram hati Odette saat sosok yang sangat ia kenali melangkah ke arahnya.

"Di sini, lewat sini," suara pria itu berseru saat ia berlari menyusuri peron menuju bagian depan gerbong Odette.

Kepanikan membuat napas Odette memburu saat ia menoleh ke sekeliling, putus asa mencari jalan keluar.

Melarikan diri adalah keharusan, namun ia merasa lumpuh. Margrethe merasakan kepanikan majikannya dan mulai merintih. Odette terus mendekapnya, meremasnya erat sembari terisak.

Badai hujan semakin hebat, menjelma menjadi simfoni alam yang ganas dan menggetarkan.

Kompartemen kelas tiga kereta menuju Lechen penuh sesak, tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi penumpang tambahan.

Bastian memindai setiap wajah saat ia menyusuri tiap kompartemen, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Odette. Ia berharap bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat, guna meminimalkan ketidaknyamanan bagi penumpang di dalam gerbong.

Kepala stasiun sangat kooperatif dalam membantu Bastian menemukan istrinya, yang dikabarkan salah menaiki kereta. Mengingat wajahnya muncul di surat kabar pagi tadi, Bastian telah menjadi semacam selebritas di Felia.

Saat Bastian menelusuri lorong-lorong sempit, berpindah dari satu kompartemen ke kompartemen lainnya, ia akhirnya menemukan apa yang ia cari.

Bahkan dari belakang pun, ia mengenali sosoknya; wanita itu mengenakan mantel biru yang sama dengan yang pernah ia hadiahkan.

Ia teringat saat ia menelepon penjahit, merasa khawatir jika Odette kedinginan, dan sangat ingin mencarikannya sesuatu yang hangat untuk dikenakan. Dan sekarang, ia merasakan sengatan sesal karena telah melakukan hal yang begitu memalukan.

Sebab aku mencintaimu... kau... yang tidak akan pernah menyerahkan hatimu kepadaku.

Bastian menepuk bahu pria yang duduk di sebelah Odette. Meski tampak kesal, pria itu tetap bergeser keluar dari kursinya untuk memberi ruang bagi Bastian.

Tatapan Bastian tetap terpaku pada Odette, yang masih menatap keluar jendela.

Sembari duduk, ia berharap bisa melepaskan ketertarikan yang memabukkan terhadap Odette, wanita yang hanya menyimpan kebencian padanya.

Mengapa ia tidak bisa melepaskan wanita ini? Lingkaran setan yang menjengkelkan dan keji yang ia sesali pernah ia pelihara.

Namun, percikan yang pernah ada di dadanya meledak menjadi kobaran api tak terpadamkan yang melahap hidupnya. Yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu sampai api itu akhirnya padam dengan sendirinya.

Akan tiba hari di mana segalanya akan terbakar putih membara, hanya untuk kemudian meredup dan mati. Saat itulah, semua emosi yang meluap-luap, rasa sakit, penyesalan, dan obsesi, bahkan namanya sekalipun, akan luruh menjadi abu.

Margrethe, teman setia Odette, menatap Bastian dan mulai merintih, bahkan saat Odette duduk dengan mata terpejam rapat, masih berusaha menyangkal kenyataan. Wanita itu menggigil seolah sedang demam.

"Anda salah naik kereta, Nyonya," ucap Bastian dengan suara rendah. "Kereta kita kembali ke Berg ada di peron sebelah." Ia berbicara seolah sedang menidurkan seorang anak kecil.

Odette mendongak, membalas tatapannya, dan Bastian bisa melihat ketakutan di mata istrinya sejelas siang hari.

Tidak ada sisa-sisa permusuhan atau kemarahan; sebaliknya, ada senyum hangat di wajah Bastian, seolah ia menyimpan secercah belas kasih.

"Kereta akan segera berangkat, jadi sebaiknya kita bergegas."

Bastian menatap penampilan Odette yang tampak lusuh dan lelah; ia lebih suka melihat wanita itu membawa bungkusan makanan yang besar. Setidaknya ia tidak perlu merasa bersalah bahwa kebenciannya telah mengubah wanita itu menjadi gelandangan.

"Tolong biarkan aku membawa istriku dengan aman." Bastian melirik arlojinya. "Jika kau tidak ikut dengan tenang, maka aku akan terpaksa menyeretmu. Bagaimanapun juga, kau akan pulang bersamaku, jadi bukankah lebih baik menjaga sedikit martabatmu?"

Bastian mengulurkan tangannya dengan sikap sopan layaknya seorang pria terhormat, meski nadanya meninggalkan kesan ancaman. Odette tahu bahwa apa pun yang ia lakukan, ia hanya akan terlihat semakin menyedihkan.

Odette berbalik kembali ke jendela dan melihat butiran hujan yang mengetuk kaca, lalu ia menoleh kembali pada Bastian.

Pria itu benar, semuanya akan berakhir dengan cara yang sama.

Odette telah menikmati masa kebebasan dan kebahagiaan yang singkat, namun tidak lebih dari sekadar fatamorgana. Ia mengira telah mengelabui takdirnya, padahal dialah satu-satunya yang tertipu.

Keputusasaan Odette semakin mendalam oleh kenyataan bahwa ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Bastian padanya.

Sembari berjuang mengendalikan hatinya yang hancur, ia meraih tangan Bastian yang dingin dan kapalan.

Tangan pria itu menggenggam tangannya dengan kekuatan yang dahsyat dan menariknya bangkit dari kursi.

Odette hanya bisa memperhatikan dari kenyamanan kompartemen pribadi yang mewah saat Bastian menanggalkan mantel dan mengeringkan rambutnya yang basah. Setelah selesai, ia berdiri di hadapan Odette dan menyodorkan handuk bersih.

"Lepaskan," Bastian memberi isyarat agar Odette menanggalkan mantelnya yang basah kuyup.

"Mengapa kau tidak menerima perceraian ini?" tanya Odette dingin.

Memilih untuk tidak mendengar pertanyaannya, Bastian berinisiatif menanggalkan mantel Odette sendiri.

Wanita itu tidak melawan, dan mantel jatuh ke lantai dengan bunyi debum yang berat. Berbagai benda tumpah dari sakunya, berserakan di lantai.

Ada sabun murah, semir sepatu, dan cokelat yang hancur. Benda-benda yang seolah mewakili kehidupan Odette selama sebulan terakhir.

"Mengapa kau tidak menyetujui perceraian? Itu terbaik untuk semua orang. Mengapa kau melakukan ini?"

"Aku yang memutuskan apa yang terbaik, Odette," ujar Bastian.

Odette basah kuyup; ia akan jatuh sakit jika tidak segera mengeringkan tubuh dan menghangatkan diri.

Perlahan, Bastian melucuti pakaian Odette. Saat ia mencoba membuka kancing blusnya, Odette meronta melawannya; pada akhirnya, kancing-kancing yang terlepas terpental di dalam kabin dan blusnya jatuh ke lantai.

Bastian tak kuasa menahan tawa saat ia menyampirkan handuk ke tubuh Odette. Dan ketika ia memeriksa tas Odette untuk mencari pakaian ganti, ia menemukan semuanya tampak lusuh dan kusut. Ada sebuah sisir emas di antara tumpukan barang, dengan huruf H besar terukir di atasnya.

"Jangan sentuh!" teriak Odette sembari menyambar tasnya. "Jangan lihat, pergi sana!"

Odette berjuang melawan Bastian, memukul dan mencakarnya, berusaha merebut tasnya kembali.

Namun, Bastian mendorongnya menjauh semudah mendorong seorang anak kecil, lalu menumpahkan seluruh isi tas tersebut. Odette jatuh terduduk di kursi, dirayapi rasa malu yang luar biasa.

Bastian mencengkeramnya. Pria itu tampak tenang, meski telah mendapatkan apa yang ia inginkan. Bingung oleh tatapan dingin dan "lapar" di mata Bastian, Odette ragu dan mundur selangkah.

Kompartemen yang tak menyala terperosok ke dalam kegelapan saat kereta memasuki terowongan. Kegelapan yang menyergap, tidak menyisakan apa pun selain kekacauan di belakangnya.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page