top of page

Bastian Chapter 131

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 20 Des 2025
  • 6 menit membaca

Hujan Musim Dingin

Odette melangkah keluar dari sesi wawancara dengan senyum lebar yang merekah di wajahnya. Suasananya sangat kontras dibandingkan saat ia pertama kali datang dan menekan bel pintu dengan perasaan serba cemas dan khawatir.

Langkah pertama telah ia ambil, dan selagi ia melamunkan prospek masa depan di hadapannya, ia tidak menyadari bahwa ia telah melangkah jauh ke jalanan.

Ibu kosnya yang ketat telah menyarankan seorang kenalan yang ingin anak perempuannya belajar piano.

Satu-satunya kendala hanyalah meyakinkan sang ibu yang agak angkuh, namun saat wawancara berakhir, Odette yakin wanita itu sudah memantapkan pilihan ketika ia mulai bertanya seberapa sibuk jadwal Odette selama seminggu ke depan atau lebih.

Odette melangkah menuju pusat kota dengan langkah yang riang; hari itu, bahkan cuaca mendung sekalipun tidak mampu merusak suasana hatinya. Hatinya dipenuhi impian untuk menetap di sebuah kota kecil di wilayah selatan yang hangat.

Ia berjalan menyusuri jalanan yang dihias dengan dekorasi meriah, mengagumi apa yang terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

Ia membeli beberapa kebutuhan pokok, serta sekeping koin emas yang merupakan pembelian impulsif. Ia tahu ia tidak punya cukup uang untuk dihamburkan pada kemewahan, tetapi ia ingin merayakannya.

Anak seperti apakah kau nanti? pikirnya. Sambil terus melangkah riang menuju pemberhentian trem, sebuah kantong berisi apel yang baru dibelinya berayun-ayun di tangannya.

Bayi yang dikandungnya terasa seolah akan tumbuh menjadi anak yang kuat, mengingat berbagai cobaan yang telah ia lalui.

Bayinya jelas tidak memiliki selera makan yang sama dengannya; si kecil membuatnya ngidam makanan yang sebenarnya tidak terlalu Odette sukai, namun ia tetap memakannya.

Wajah Bastian seolah muncul dari hangatnya imajinasi, membeku di antara kepulan uap napasnya di udara dingin.

Odette menghentikan langkah dan mengembuskan napas panjang. Cepat atau lambat, akan tiba hari di mana anak itu bertanya tentang ayahnya.

Ia tidak tahu harus berkata apa. Pada akhirnya, ia mengenyahkan pikiran itu. Hari masih sangat jauh dan ia memiliki hal-hal yang lebih mendesak untuk dikhawatirkan.

Untuk saat ini, ia harus puas hidup di masa sekarang dan berharap jawabannya akan datang seiring berjalannya waktu.

Mungkin karena ia sedang memikirkan pria itu, tetapi ia berani bersumpah seolah melihat Bastian berdiri di depan sebuah toko tembakau. Saat ia melihat sekali lagi, tidak ada yang berubah; ia memang benar-benar melihat wajah Bastian di lapak pinggir jalan.

Pahlawan Laut Utara kalah dalam pertempuran kereta api melawan ayahnya sendiri.

Judul utama yang tertulis dalam teks besar dan tebal di atas foto Bastian. Butuh beberapa saat bagi Odette untuk menyadari bahwa ia tengah melangkah menuju kios koran.

Sebuah artikel mendalam tentang upaya Bastian untuk memenangkan kontrak yang diajukan pemerintah Felia demi mengambil alih kereta api mereka. Bastian berjuang dalam pertempuran yang sengit dan panjang melawan ayahnya, Jeff Klauswitz, dan pada akhirnya ia kalah.

"Hei Nyonya, jangan berpikir untuk membaca gratis. Bayar dengan uang!"

Dari ambang pintu kios, sang pemilik berteriak ketus. Odette menggelengkan kepalanya, sebagian masih linglung, dan meletakkan kembali surat kabar yang ia pegang.

"...... Maafkan saya."

Odette berhasil berucap dengan susah payah; getaran halus mulai menjalar di ujung-ujung jemarinya.

Pengumuman penawaran pengambil alihan itu telah dilakukan pagi ini, yang dihadiri langsung oleh kedua belah pihak.

Pria itu ada di sini?

Kesadaran menghujam Odette bak petir di siang bolong. Ia bergegas menjauh dari kios, seolah-olah ia sedang melarikan diri. Instingnya memerintahkan untuk segera pulang secepat mungkin, mengunci diri sampai ia merasa benar-benar aman.

Namun, kakinya punya kehendak lain. Rasanya seperti beban timah yang menolak untuk patuh.

Dengan sisa tenaga, ia memaksakan diri menuju pemberhentian trem, menerobos kerumunan orang sebaik mungkin.

Dunia seolah tenggelam ke dalam air dan ia berjuang keras untuk tetap tegak. Kantong kertas jatuh dari tangannya, dan tepat saat ia hendak jatuh tersungkur ke lantai, sebuah sentuhan lembut menahan tubuhnya agar tetap stabil.

"Anda baik-baik saja?" tanya seorang pejalan kaki yang tampak khawatir.

"Ya, terima kasih," sahut Odette secara insting.

Ia bergegas memunguti barang-barangnya. Baru setelah ia menjejalkan kantong ke sakunya dan berdiri tegak, ia menyadari bahwa pria itu berbicara dalam bahasa asli Berg.

Odette mengerjapkan matanya untuk menjernihkan pikiran dan mengamati sekelilingnya dengan cemas.

Pemberhentian trem tidak sepadat yang ia kira sebelumnya, dan tidak ada tanda-tanda pria yang baru saja menolongnya.

Ia mencoba menata pikirannya dan menganalisis situasi dengan benar. Hubungan antara Felia dan Berg cukup bersahabat sehingga lazim untuk menemukan orang Berg di Felia. Namun, sikap pria itu terasa sangat santai, seolah-olah ia sudah tahu bahwa Odette berasal dari Berg.

Semakin ia memikirkan pria itu, wajahnya semakin jelas terlihat melalui kabut pikirannya yang sempat teralihkan.

Gambaran yang sekilas, namun ia ingat melihat luka parut yang cukup besar di pipi pria itu; bekas luka yang cukup menonjol sehingga ia bisa mengingatnya dengan jelas.

Odette terisak pelan; semua pikiran untuk menunggu trem lenyap. Ia berbalik dan berlari kencang menyusuri jalanan.

Dengan negosiasi cepat yang telah tuntas, Bastian menandatangani cek dan menyerahkannya kepada pemilik Etienne Steel Co., yang memeriksa angka pada lembaran kertas dan tersenyum puas. Ia menganggap jumlah tersebut memadai untuk pembelian tiga puluh lokomotif.

"Jadi, usaha kereta apinya tidak berhasil, dan Anda beralih ke perdagangan baja, ya?" Etienne tersenyum pada Bastian. "Melihat rumor tentang penawaran Anda yang begitu berani, saya bertanya-tanya apakah kereta api benar-benar target utama Anda."

"Yah, selalu baik untuk memiliki rencana cadangan. Saya tidak berniat pulang dengan tangan hampa, jika itu yang Anda maksud."

Etienne mengangguk setuju. "Keputusan yang bijaksana. Terkadang, puas dengan posisi kedua sering kali lebih baik daripada mempertaruhkan segalanya demi kemenangan telak. Anda tidak akan menyesalinya."

Bastian tahu bahwa Etienne adalah pebisnis cerdik. Mereka bertukar beberapa kata manis dan bersulang untuk kemitraan yang makmur.

Detail-detail kecil akan dipercayakan kepada tim pengacara serta regulator, dan karena tidak ada lagi urusan bisnis di antara mereka, Bastian pun pamit.

Ada satu lagi urusan yang harus ia selesaikan terlebih dahulu sebelum pulang.

Ia menyuruh supir mengantar ke alamat yang tertulis di secarik kertas yang diberikan Keller kepadanya. Alamat pemondokan tempat Odette tinggal.

Bastian bersandar di kursi sembari menatap ke seberang jalan, ke arah bangunan tempat istrinya menginap.

Sebuah senyum tipis yang tak disengaja tersungging di bibirnya saat ia memikirkan kunjungan produktifnya ke Felia.

Jeff Klauswitz kini raja kereta api, sebuah gelar yang cukup sia-sia dan tidak dipedulikan oleh Bastian.

Kuda pacu yang tak kenal lelah, yang matanya terbutakan oleh ambisi, telah memenangkan balapan. Namun, kuda itu pada akhirnya tidak mampu melihat ke mana arah tujuannya berlari.

Selama pertempuran panjang memperebutkan kereta api, Bastian menyadari bahwa semua potensi dari usaha itu telah terkuras habis. Kereta api tidak lagi mampu menyokong masyarakat yang tengah memacu diri menuju masa depan. Ia tidak tertarik untuk bergabung dengan dinasti yang hampir runtuh. Gelar Raja Kereta Api tidak lagi memiliki nilai apa pun.

Seiring berjalannya waktu, Jeff akan mewariskan warisan bisnis kepada Franz, yang tidak akan memiliki keteguhan mental untuk melanjutkan perusahaan ayahnya. Meninggalkan perusahaan akan menjadi pilihan yang paling mungkin bagi Franz, dan saat itulah, Bastian akan bisa mendapatkannya dengan harga yang sangat murah.

Kereta api Felia memiliki nilai yang tak terbantahkan, tetapi perang penawaran ini telah membengkakkan nilainya melampaui harga yang sebenarnya.

Bastian tidak keberatan bermain sebagai pecundang yang anggun, membiarkan ayahnya menatapnya dengan seringai mengejek; Bastian puas menunggu kemenangan mutlak yang kelak akan menjadi miliknya.

Dipenuhi dengan rasa percaya diri, ia melangkah keluar dari mobil dan berjalan menyeberang jalan menuju pemondokan itu. Seorang pria muda membukakan pintu, pria yang dikenali Bastian sebagai asisten Keller.

"Saya harus memohon maaf," pria itu memulai, nadanya tidak terdengar menjanjikan. "Nyonya Klauswitz sudah pergi belum ada tiga puluh menit yang lalu. Keller meminta saya menunggu Anda untuk menyampaikan pesan ini."

"Begitu," ucap Bastian dengan nada yang sedikit lebih tenang dari yang diperkirakan.

"Tuan Keller menduga Nyonya mungkin sedang mencoba mengejar kereta api. Saya ditugaskan untuk mengantar Anda menemuinya."

Bastian menghela napas. "Baiklah, ayo pergi."

Mereka kembali ke mobil Bastian dan segera setelah mereka duduk di kursi, "Ke stasiun," ucap Bastian dengan tajam.

Dengan deru yang lincah, mobil itu melesat pergi, meninggalkan kota yang tenang di belakang.

Sepanjang perjalanan, Bastian tetap memfokuskan pandangannya ke luar jendela, tenggelam dalam pikirannya di antara pemandangan yang berlalu.

Satu-satunya alasan Odette bisa memainkan permainan petak umpet adalah karena Bastian telah menoleransinya, namun kini ia mulai kehilangan kesabaran.

Ia terpaku pada pemandangan di luar jendela; sikapnya tetap tenang, tidak ada gunanya menjadi gelisah dan terkuras secara emosional karena hal ini.

Pada saat mobil menepi di depan stasiun, hujan musim dingin yang jatuh dari langit kelabu di atas sana, mencambuk mobil tersebut. Bastian nyaris tidak menyadarinya saat ia melangkah keluar tepat saat kendaraan itu berhenti.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page