Bastian Chapter 130
- Crystal Zee

- 20 Des 2025
- 6 menit membaca
Wajah Mahal
Odette pindah ke akomodasi ketiganya—sebuah pemondokan tenang di kawasan perumahan yang sunyi, dikelola oleh seorang ibu kos yang sangat ketat.
Setelah membongkar sedikit barang miliknya, ia duduk di tepi ranjang untuk mengatur napas. Kamarnya berada di lantai paling atas dan menghadap ke arah utara.
Perapian di sana berjuang menghalau malam yang dingin dan menusuk.
Odette tidak terlalu peduli di mana ia berada, asalkan tempat itu menyenangkan, hangat, dan nyaman. Meski begitu, ia telah mengerahkan banyak tenaga hanya untuk mendapatkan sudut kecil yang nyaman ini.
Sang ibu kos sempat merasa sangat skeptis ketika Odette mengaku sebagai seorang wanita dari keluarga bangsawan yang jatuh miskin dan sedang mencari awal yang baru di tempat asing.
Ibu kos itu menginterogasi Odette tanpa henti dan tidak merasa puas sampai ia berhasil memaksa Odette memainkan piano di hadapannya, demi membuktikan bahwa Odette benar-benar seorang guru piano.
"Cukup beruntung, bukan?" kata Odette pada Margrethe. Ia mulai terbiasa berbicara pada anjingnya sejak hidup menyendiri.
Margrethe mengendus-endus sekeliling kamar, memeriksa setiap sudut ruangan, ia tiba-tiba melompat ke arah Odette dan meletakkan moncongnya yang basah ke pangkuan majikannya.
Melihat binar mata yang penuh kasih menatapnya, Odette pun tertawa. Setiap kali segalanya terasa suram, momen-momen seperti inilah yang membuatnya tersenyum.
Sudah sebulan berlalu sejak Odette melarikan diri dari Bastian, dan tak satu pun hal yang paling ia takuti menjadi kenyataan.
Sementara ia berupaya mencari semacam stabilitas, anak di dalam kandungannya terus bertumbuh.
Berlalunya hari-hari yang damai membuat kekhawatiran di masa lalu terasa seperti kenangan yang jauh.
Odette membelai Margrethe sembari mengalihkan pikirannya ke masa depan.
Ia bisa menghabiskan musim dingin di sini, tetapi mengingat ketatnya sang ibu kos, ia ragu akan diizinkan tinggal di sana bersama seorang anak tanpa kehadiran sosok ayah.
Odette ingin menyewa sebuah rumah, tetapi untuk melakukannya, ia butuh cara untuk menghasilkan uang.
Tenggelam dalam pikirannya, Odette menatap ujung jemarinya.
Sang ibu kos tampaknya menikmati permainan piano Odette dan mungkin bisa membantunya mencarikan pekerjaan paruh waktu sebagai pengajar.
Awalnya, ia berencana untuk tetap bersembunyi dan menghindari masalah, tetapi karena keuangan yang semakin menipis, ia tidak bisa lagi terus mendekam dalam bayang-bayang.
Ia akan bertanya saat makan malam nanti apakah ada lowongan pekerjaan yang tersedia.
Puas dengan rencananya, Odette bangkit dan menyelesaikan urusan kemas-kemasnya.
Saat musim dingin mendekati penghujungnya, Odette menyalakan api untuk melawan hawa dingin.
Kondisi keuangannya mendikte penggunaan kayu bakar yang minimal, memaksanya untuk hanya menyalakan perapian setelah matahari terbenam.
Dua tahun terakhir adalah masa yang tidak lazim, dipenuhi kemewahan yang sebenarnya bukan miliknya.
Saat ini, ia telah kembali ke kondisi semula—sebuah skenario yang tidak asing baginya karena sejak kecil, ia sudah biasa menghadapi musim dingin yang serbakekurangan.
"Maaf karena harus melibatkanmu dalam kesulitan ini, Meg."
Odette didera rasa bersalah saat menatap Margrethe yang meringkuk di depan perapian. Demi anjing itu, Odette perlu membiasakan diri dengan geografi wilayah setempat.
Pada saat Odette selesai membenahi kamarnya, lonceng makan malam berdentang. Odette bergegas merapikan penampilannya di depan cermin yang kusam.
Perutnya mulai sedikit menonjol dan ia melakukan yang terbaik untuk menyembunyikannya di balik juntaian gaunnya.
Ia mulai menyadari bahwa tubuhnya mengalami banyak perubahan belakangan ini. Pikiran bahwa ia akan membutuhkan pakaian baru semakin menguat setiap harinya.
Ia harus segera menemukan pekerjaan.
Sambil melilitkan syal besar di sekeliling tubuhnya yang mulai berubah, Odette melangkah keluar kamar dengan langkah kaki yang mantap.
"Kerja bagus, Franz. Kau berhasil," kata Jeff Klauswitz, menunjukkan kasih sayang dan kebanggaan yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya.
Franz menatap ayahnya dengan tatapan kosong, tidak yakin bagaimana harus bereaksi.
Laporan itu masih ada di pangkuan ayahnya, terkoyak dan nyaris terlupakan saat mereka memasuki Boulevard Preves.
"Jadi, apakah aku sudah cukup membantu?"
"Ha! Kau melakukan lebih dari sekadar membantu, Nak. Mengatakan kau hanya membantu adalah pernyataan yang sangat rendah hati." Jeff tersenyum lebar sembari menepuk bahu putranya.
Di permukaan, tampak seperti perang sederhana untuk memperebutkan takhta raja kereta api, tetapi tepat di bawahnya terdapat sarang perusahaan yang kompleks yang bersaing demi taruhan yang tinggi.
Perusahaan Kereta Api Klauswitz disusun sedemikian rupa sehingga ke mana pun perusahaan itu melangkah, selusin perusahaan lain akan mengikuti. Bastian telah meniru strategi itu hingga ke titik di mana mustahil untuk membedakan antara para rival tersebut.
Dua tahun lalu, ketika perusahaan kereta api Bastian mencoba berbuat curang dengan berlian dan gagal, mereka menggunakan strategi untuk menyusup di level dasar agar bisa mengguncang puncaknya. Hal yang hanya mungkin terjadi berkat pertumbuhan korporasi Illis, yang menyaingi Klauswitz.
Segalanya diatur sedemikian rupa sehingga jika perusahaan kereta api itu runtuh, maka industri pelayaran dan baja pun akan ikut hancur, memicu reaksi berantai yang akan menghancurkan semua orang. Dengan cara itulah, perusahaan tersebut secara praktis menjadi tak tersentuh oleh serangan.
Bastian berkonsentrasi membangun hubungan yang kuat antara Felia dan Belov. Dengan menggunakan strategi agresif yang membuatnya tampak nekat, kepercayaan diri yang berlebihan justru menciptakan celah kelemahan.
Kelemahan inilah yang dimanfaatkan Franz dengan lihai, berhasil merampas kesepakatan dari tangan Bastian dengan ketepatan yang jitu. Franz memiliki keuntungan yang jelas setelah menyabotase upaya Bastian untuk mengamankan dana yang dibutuhkannya.
Terlebih lagi, menteri keuangan Felia yang memimpin kontrak-kontrak tersebut adalah teman dekat keluarga Count Klein. Tak peduli seberapa licik Bastian mencoba, ia akan mendapati bahwa hampir mustahil untuk menutup celah tersebut.
"Penawaran ini mungkin hal yang kau butuhkan untuk memulai era keemasanmu," ujar Jeff Klauswitz, dengan lagak seorang pebisnis sejati.
Mobil itu berhenti di depan Stasiun Pusat Ratz. Keduanya melangkah keluar dari kendaraan, dan orang-orang yang melihatnya langsung mengenali Jeff Klauswitz sebagai Sang Raja Kereta Api.
Dalam waktu dua hari, pemenang dari perang kecil ini akan diumumkan secara resmi. Dan pada saat mereka kembali dari Felia, tidak ada seorang pun yang akan berani melontarkan rumor tak berdasar tentang Bastian Klauswitz yang akan menggulingkan ayahnya dari takhta.
"Oh, Ayah," ucap Franz, suasana hatinya mendadak mendung.
Dari tengah keramaian, seorang perwira militer jangkung melangkah ke arah mereka dengan penuh tekad. Wajah yang dapat dikenali dalam sekali lirik. Bastian.
Bastian yang pertama kali memecah keheningan. "Sudah lama, Ayah. Bagaimana kabar Anda?"
Jeff Klauswitz menatap putranya seolah ingin membunuhnya, namun ia tidak meninggikan suaranya. Ia menekan kemarahan yang membakar relung batinnya dan menyapa Bastian dengan sopan. Pemandangan itu tampak seperti reuni keluarga formal biasa.
"Apakah kau akan menuju Felia untuk mengawasi penawaran secara pribadi? Kau jauh lebih proaktif daripada yang kubayangkan."
"Ya, begitulah. Saya berasumsi Anda juga melakukan hal yang sama."
"Tentu saja, karena Felia adalah sekutu Berg. Aku menganggap ini hanya akan mempererat persahabatan kita."
"Apakah bijaksana untuk menjual wajahmu secara terang-terangan?" Jeff mulai kehilangan kesabaran, namun Bastian tersenyum santai dan mengangkat bahu.
"Ini wajah yang laku dengan harga yang cukup mahal."
"Seperti yang kau katakan, kau cukup terkenal di Felia. Kurasa rumor sudah menyebar sejauh itu. Namun, apakah bijaksana untuk memercayakan penunjukan penting kepada seorang pemula muda tak berpengalaman yang bahkan tidak bisa mengendalikan istrinya sendiri?"
"Kita lihat saja bagaimana segalanya akan terungkap nanti."
"Ya, akan kita lihat," ujar Jeff Klauswitz, menantang gertakan Bastian.
Jeff dan Franz melangkah pergi dengan keyakinan akan kemenangan mereka, tampak seperti bangsawan yang tengah menginspeksi kerajaan mereka.
Tak ada yang benar-benar memperhatikan pertemuan para pria Klauswitz; mereka semua terlalu sibuk dengan hiruk-pikuk kehidupan masing-masing.
Kerumunan orang bergerak di stasiun bagaikan awan di langit. Membentuk arus dan pusaran jiwa-jiwa yang sedang menjalani urusan mereka.
Bastian bergerak bersama kerumunan menuju peron, dan meskipun ia menuju ke tempat yang sama dengan ayah dan saudaranya, ia segera kehilangan jejak mereka.
Segalanya seharusnya menjadi sedikit lebih tenang tanpa gangguan dua orang itu.
Bastian tidak menunda waktu dan langsung menuju kabin kelas utama. Begitu ia mencapai gerbong, tim pelayan yang telah menunggunya langsung beraksi.
"Tidak perlu berlebihan," kata Bastian, "mari kita mulai saja."
Bastian didampingi oleh Thomas Muller, dan bersama-sama mereka menelaah setiap detail pertemuan yang akan berlangsung di ujung jalur kereta api.
Pada saat mereka merasa puas dengan risalah pertemuan, dunia di luar sana sudah gelap.
"Kita sudah bekerja keras, mari beristirahat sejenak sebelum lanjut lagi," ujar Thomas sembari meregangkan tubuh.
Bastian tersenyum saat menyaksikan Thomas melemaskan otot punggungnya yang pegal karena membungkuk di atas meja yang terlalu kecil, yang dipenuhi tumpukan map, folio, berkas, dan lembaran kertas yang berserakan.
"Terdengar seperti ide yang bagus," sahut Bastian, berusaha menahan kuap.
Thomas mematikan lampu kabin, menyisakan cahaya yang hanya bersumber dari lampu tidur kecil di samping ranjang.
"Aku senang kau setuju. Dan jangan pernah berpikir untuk melirik dokumen resmi lainnya sampai pagi, mengerti?"
"Ya, tentu saja," jawab Bastian, merasa seperti anak kecil yang sedang dinasihati.
"Jika aku memergokimu bekerja lagi dan tidak mendapatkan istirahat yang sangat dibutuhkan, aku akan sangat kecewa padamu," ancam Thomas. Ia mengulang ancamannya beberapa kali sebelum akhirnya keluar dari kabin.
Bastian menendang lepas sepatunya dan berbaring di atas ranjang yang terasa sedikit terlalu pendek untuk bingkai tubuhnya yang jangkung.
Ia telah mengajukan cuti dari markas laksamana untuk perjalanan bisnis ini, namun bukan karena alasan yang ia berikan kepada mereka.
Odette menginap di sebuah pemondokan murah dan sedang mencari pekerjaan.
Bahkan setelah semua perhiasan yang ia berikan padanya, betapa nyaman dan mudah hidup yang telah ia sediakan untuknya, perempuan itu lebih memilih untuk keluar dan membeli kayu bakar kapan pun ia mampu—menurut laporan terbaru dari Keller.
Sambil melepaskan dasinya, Bastian menatap ke luar jendela kecil, ke arah langit bermandikan cahaya bulan yang berkelip dengan ratusan bintik berlian.
Saat ia menghitung kerugiannya akibat ulah Odette, ia tak kuasa menahan tawa getir menghadapi pilihan hidup Odette yang begitu konyol. Dari semua pembicaraan tentang 'menjual wajah', wajah perempuan itulah yang mungkin paling mahal harganya.
Bagi Bastian, kekacauan yang ditimbulkan Odette sepadan dengan reputasi dirinya yang kini terseret ke dalam lumpur.
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar