Bastian Chapter 129
- Crystal Zee

- 20 Des 2025
- 6 menit membaca
Boleh Kita Lanjutkan?
Suasana pesta seketika berubah saat Bastian Klauswitz menampakkan diri.
Dengan cepat, kabar yang sebelumnya telah menyebar ke penjuru kota kini menjalar di antara para tamu di aula perjamuan.
Saat Laksamana Demel dan istrinya selesai menyapa semua tamu yang baru datang, perhatian semua orang telah tertuju pada Bastian, termasuk Count Maximin Xanders.
“Aku terkejut dia tidak mencari-cari alasan untuk tidak hadir,” bisik beberapa orang di pesta itu.
“Yah, dia pria yang tidak tahu malu, tidak ada yang mengejutkan darinya.”
“Meski begitu, bukankah keterlaluan menunjukkan batang hidungnya di pesta saat rumor tentang istrinya yang kabur sedang memanas? Kurasa aneh Marchioness Demel mengundangnya sejak awal. Cucu pedagang barang rongsokan, apa yang ada di pikiran sang Marchioness?”
Maximin menghela napas panjang, tampak termenung. Itu percakapan yang tidak nyaman untuk didengar, namun sulit diabaikan ketika topik tersebut ada di bibir setiap orang. Tidak ada jalan untuk melarikan diri darinya.
“Apa dia benar-benar menyiksa istrinya sendiri, keponakan Kaisar? Kupikir mereka dikenal memiliki hubungan yang penuh kasih.”
“Menurutku aneh kalau dia memujanya seperti kekasih. Terlepas dari garis keturunannya, wanita itu rakyat jelata. Aku merasa dia menikahinya hanya untuk melindungi diri dari Putri Isabelle.”
“Mungkin Anda benar. Aneh sekali dia pergi selama dua tahun tanpa istrinya, dan bahkan tidak pulang sekadar untuk kunjungan singkat.”
“Yah, kudengar itu semua kesalahan si istri,” kata salah satu tamu, membicarakan Odette. “Saat suaminya pergi, dia bermain gila, Anda tahu? Dan akhirnya mengandung anak pria lain.”
Bastian bergerak di tengah banjir percakapan itu, berpura-pura tidak tahu akan desas-desus yang mendera di hadapannya seperti riak air di belakang kapal.
Ia berbincang dengan tokoh-tokoh penting angkatan laut, bangsawan rendah, bahkan anggota keluarga kerajaan, seolah-olah ini hanyalah pesta biasa untuk menjaga jaringan relasinya. Tidak ada tanda-tanda kekhawatiran sedikit pun terhadap istrinya.
Maximin mohon diri dari percakapan tersebut, tak mampu lagi menahan barang sedetik pun terhadap spekulasi rendah yang mengalir tanpa henti. Perasaannya sendiri mengenai masalah ini sudah cukup sulit untuk ia pahami.
“Halo, Tuan Xanders.” Sebuah nada rendah mencapai telinga Maximin saat ia meraih minumannya. Ia langsung tahu siapa pemilik suara itu.
“Sudah lama, Mayor Klauswitz,” kata Maximin, sesopan mungkin.
Mereka berdiri dalam jarak pendek, menciptakan zona tak bertuan yang sunyi di antara mereka.
Bastian berdiri sebagai sosok yang mengintimidasi di hadapan Maximin; sang Count tidak tahu apakah Bastian melakukannya dengan sengaja atau itu hanyalah pembawaan militernya.
Ada banyak perwira angkatan laut yang berbadan tegap dan kokoh di pesta, tetapi Bastian tampak paling menonjol di antara mereka.
Bagaimana jika pria ini benar-benar menyiksa Odette?
Maximin tidak menyadari bahwa rumor itu telah berakar di pikirannya. Suasananya hatinya meredup drastis.
Bastian melanjutkan pembicaraan seolah-olah ia tidak menyadarinya dan dengan terampil mengarahkan percakapan melalui subjek-subjek tidak penting dan peristiwa terkini. Nilai pasar saham, acara olahraga, dan sesuatu tentang cuaca.
Mereka berbicara sebagai pria terhormat yang sempurna satu sama lain.
Tanpa informasi awal tentang silsilahnya, tidak akan ada yang menduga bahwa Bastian adalah seorang rakyat jelata.
Maximin terus mengawasinya, yang berbicara dengan singkat dan konsisten. Pria itu tampak agak lelah—mungkin karena malam-malam panjang yang dihabiskan tanpa tidur karena mengkhawatirkan Odette, atau mungkin ia hanya terlalu banyak bekerja. Tanpa petunjuk lain, Maximin tidak bisa membedakannya.
“Bagaimana kabar Nyonya Klauswitz?” Maximin memutuskan untuk mengambil kendali percakapan.
Bastian memalingkan wajah seolah tidak mendengar pertanyaannya, lebih memilih untuk memberikan salam kepada seseorang di seberang aula.
Maximin telah memprovokasi Bastian dan ia merasakan kepuasan karena berhasil mengguncang ketenangan pria itu, meski hanya sesaat.
Kenyataannya, Bastian tengah mempelajari Count Xanders, mencari tanda-tanda apakah pria itu ada hubungannya dengan pelarian Odette.
Merasa yakin bahwa sang Count memang tidak ada sangkut pautnya, Bastian pun beranjak, merasa puas telah berhasil menghadapi Count Maximin von Xanders.
Ia tadinya ingin mengangkat topik keanggotaan, tetapi itu bisa menunggu saat di gedung opera nanti; dan bahkan tanpa bantuan Count Xanders pun, ia bisa mendapatkannya dengan cara lain.
“Anda belum menjawab pertanyaan saya,” kata Maximin, menghentikan langkah Bastian dengan meletakkan tangan di bahunya.
“Aku tidak melihat adanya kewajiban untuk menyampaikan kabar kesehatan istriku kepadamu,” kata Bastian, menepis tangan itu, tetapi Maximin tidak mundur.
“Dia bukan sekadar istrimu, dia juga temanku.”
“Ah, temanmu.”
“Aku mengerti bahwa dia berada dalam posisi yang sangat rentan dan kesehatannya tidak baik,” kata Maximin, memancing jawaban.
“Lalu?”
“Aku hanya mengatakan bahwa hal yang wajar bagi seseorang untuk mengkhawatirkan seorang teman yang sedang bepergian sendirian dalam kondisi kesehatan yang buruk,” kata Maximin dengan nada menegur, seolah sedang menasihati anak kecil.
“Aku tahu itu dengan sangat baik,” kata Bastian dengan tawa yang menyalak. Ia menatap sang Count dengan senyum geli. “Aku bertanya-tanya, apakah kau ayah dari anak yang dikandungnya?”
“Mayor Klauswitz?” Wajah Maximin memerah padam.
“Aku hanya bercanda.” Bastian mengangkat bahu seolah itu bukan masalah besar. “Aku terbawa suasana tadi, aku tidak bermaksud tidak sopan. Sungguh, tidak ada niat buruk sama sekali. Tolong mengerti.”
Bastian kembali ke posturnya yang tegak dan mengintimidasi, lalu menawarkan permintaan maaf kepada Count Xanders.
Maximin terdiam sejenak. Itu teguran yang berkedok permintaan maaf, seolah ingin memberi tahu Maximin bahwa dialah yang lebih dulu melewati batas.
“Semoga malam Anda menyenangkan, Count Xanders.” Dengan itu, Bastian memberikan bungkukan kecil dan melangkah pergi.
Maximin berbalik dan berjalan keluar menuju balkon aula perjamuan. Hanya ketika ia merasakan embusan angin dingin barulah ia berani menarik napas, seolah tidak ingin menghirup miasma beracun di dalam aula.
Ucapan Bastian tadi sungguh tidak sopan melampaui batas, namun ada benarnya. Maximin tahu bahwa campur tangannya telah melewati garis, namun meski begitu, ia tidak bisa menghentikan dirinya.
Mengapa aku bertindak begitu bodoh?
Ia bisa saja menghabiskan sepanjang malam hanya untuk mencoba mengurai benang kusut pemikirannya yang sangat rumit.
Maximin menatap langit yang gelap dan pekat di atas taman. Penyesalan menggerogoti pikirannya. Sesal karena ia tidak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada Odette.
Sesal karena ia tidak berbuat lebih banyak untuk membantunya. Ia tak kuasa menahan pikiran bahwa itu semua adalah kesalahannya.
Maximin tetap berada di balkon, sendirian, sampai rona merah di pipinya mendingin dan ia sanggup menghadapi kenyataan untuk kembali ke dalam aula, tempat Bastian baru saja mempermalukannya.
“Boleh kita lanjutkan?” bisik Noah dengan nada rendah.
Sandrine memalingkan wajah dari jendela yang menghadap ke arah Ratz yang terendam dalam kemuraman malam.
Ia menatap ke seberang meja makan, ke arah Noah yang berada di balik hiasan meja yang mewah; pria itu tersenyum seperti anak kecil yang siap menjahili seseorang.
“Maksudku, tentang pamerannya. Jadi, aku dengar Nyonya Klauswitz telah melarikan diri, bukankah tidak ada gunanya lagi memajang lukisan itu?” Noah menghela napas, senyumnya sedikit memudar.
Sandrine tetap diam, memiringkan gelasnya ke arah bibir sembari menatap kosong ke depan, berpikir. Tatapannya intens, seperti malam saat mereka menyelinap ke studio Franz.
Sandrine sangat ingin memajang lukisan itu di pameran, memberi tahu semua orang bahwa menurutnya adalah sebuah kejahatan membiarkan mahakarya semacam itu tetap tersembunyi.
Sandrine menyuruh Noah menyiapkannya untuk seorang teman dan jika semua berjalan lancar, mereka bisa mengatur sponsor resmi dari Keluarga Laviere. Itu jauh lebih bisa diandalkan daripada sekadar mahar.
Idenya gila dan Noah mengetahuinya, tapi bagaimana ia bisa menolak?
Franz tidak akan bisa melanjutkan karier sebagai pelukis mengingat konflik di rumahnya; dan jika nanti ia menikah dan keluarga istrinya ikut campur, bangsawan muda yang rapuh seperti Franz tidak akan bisa berkutik.
Apakah Franz masih bisa menyokong pelukis-pelukis muda jika hari itu tiba?
Noah memantapkan hatinya saat menemukan jawaban atas pertanyaan Sandrine, yang menghujamnya seperti belati.
Daripada menanggung risiko ditinggalkan, Noah akan memilih untuk berpaling lebih dulu.
“Bagaimana dengan pameran berikutnya?” saran Noah dengan hati-hati, takut Sandrine mungkin akan berubah pikiran.
“Tidak, tidak perlu,” kata Sandrine tegas, meletakkan gelasnya.
Jika Odette benar-benar melarikan diri atas kemauannya sendiri, maka tidak ada gunanya mencoba mempermalukannya.
Jika Bastian tidak memutuskan hubungan dengan wanita itu sekarang, dia akan menderita banyak kerugian. Satu-satunya tindakan yang harus diambil Bastian adalah akhirnya menceraikan wanita itu.
Mustahil Bastian tidak menyadari konsekuensinya. Dia pria yang dingin dan penuh perhitungan; dia tahu kapan harus memutuskan ikatan dan mana yang harus diperkuat.
Sudah sebulan berlalu, dan fakta bahwa Bastian masih mempertahankan Odette sungguh tidak masuk akal baginya.
Bastian menolak melepaskan Odette dan reputasinya hancur karenanya; ia tidak lagi dipandang sebagai pahlawan perang pemberani yang nyaris kehilangan nyawa, melainkan suami menyedihkan yang telah kehilangan istrinya.
Sandrine ingin bertanya mengapa ia begitu keras kepala, namun ia takut akan jawabannya, karena jika ia tahu, tidak akan ada jalan kembali. Lebih baik bertahan dalam ketidaktahuan daripada mengambil risiko merobohkan jembatan itu selamanya.
“Jadi, apakah berarti kita membatalkan rencananya?” kata Noah muram.
Sandrine mengangkat kepalanya dan mengembuskan napas perlahan, asap membubung ke langit-langit saat ia menggigit pipa rokoknya.
Ia perlu melakukan sesuatu yang benar-benar akan menghancurkan Odette, memusnahkan kesempatan apa pun bagi wanita itu untuk kembali ke pelukan Bastian.
Bastian pasti akan ikut terbakar oleh apa pun yang direncanakan Sandrine, tapi sepadan demi mendapatkan pria itu untuk dirinya sendiri. Apa pun lebih baik daripada membiarkannya bersama istri palsu.
“Tidak, kita lanjutkan sesuai rencana.” Sandrine mengibas abu rokoknya.
Apakah karena dia masih mencintai Bastian Klauswitz?
Sandrine merenungkan pertanyaan itu berkali-kali tanpa menemukan kesimpulan. Namun, satu fakta menonjol: ia menolak menerima cintanya berakhir tragis seperti ini.
Hanya alasan itu saja sudah cukup untuk menjelaskan mengapa ia tidak bisa berhenti.
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar