Bastian Chapter 126
- Crystal Zee

- 21 Nov 2025
- 5 menit membaca
Tangan yang Memegang Api
Odette melihat ke jam, pukul 03:42, dan ia mempercepat langkahnya melintasi alun-alun.
Meskipun napasnya berat dan ia bisa merasakan ketakutan beraroma logam yang mencekik, ia tidak bisa berhenti.
Meninggalkan kediaman Duke lebih awal dari yang direncanakan memberinya cukup waktu untuk tiba di stasiun tepat waktu.
Meskipun ia khawatir tertangkap basah menguping, itu sudah tidak relevan lagi; dunia Herhardt bukan lagi urusannya.
"Tidak apa-apa, Meg, kita akan baik-baik saja," hiburnya saat menenangkan anjing yang merengek sambil bergegas menaiki tangga menuju Stasiun Pusat Carlsbar.
Setelah kembali ke hotel dengan mobil pinjaman Duchess, Odette memeriksa Molly. Molly, seperti yang diduga, telah pergi, menyembunyikan harta yang Odette berikan padanya.
Dengan masalah terakhir sudah terselesaikan, Odette meninggalkan hotel, setelah ia meletakkan surat cerai untuk Bastian.
Kapal yang dinaiki Tira seharusnya sudah berlayar sejak tadi, dan yang harus dilakukan Odette kini hanyalah naik kereta tepat waktu.
Sedikit lagi, dan ia akan bebas.
Odette mendorong dirinya lebih jauh. Sulit untuk menggendong anak anjing dan menyeret koper sekaligus, tetapi atisipasi akan kebebasan yang sebentar lagi diraih memacunya.
Menembus kerumunan orang yang lalu-lalang, Odette praktis harus berjuang menuju loket tiket.
Setelah tiket dibeli, barulah ketika ia tiba di peron tempat kereta menunggu, ia menyadari bahwa Bastian adalah pemilik jalur kereta yang akan ia gunakan untuk melarikan diri.
"Awas!" teriak seorang pria yang mendorong troli barang saat Odette hendak naik kereta.
Odette melompat minggir, tetapi malah menempatkan dirinya tepat di jalur kecelakaan lain yang akan datang.
Didorong oleh kerumunan yang bergerak di sekitar troli barang, genggaman Odette pada kopernya terlepas.
Ia mencoba menangkapnya, tetapi menabrak seseorang saat membungkuk, yang nyaris membuatnya terjerembap ke lantai.
Untungnya, seorang pria di belakangnya menopangnya dan mencegahnya menghantam lantai beton.
"Anda baik-baik saja?" kata pria itu, sambil membantu mengambilkan koper Odette. Meskipun ada bekas luka besar di pipinya, pria itu bersikap sangat ramah.
"Ya, terima kasih, saya sangat berterima kasih atas bantuan Anda."
Odette menaiki kereta dan terduduk lemas di sudut, terengah-engah.
Peluit nyaring melengking melintasi stasiun, dan gerbong-gerbong yang berderak mulai tersentak maju.
Akhirnya, pukul 4 tepat.
Ia melihat surat itu diletakkan dengan rapi di meja samping di bawah jendela.
Bastian segera berjalan melintasi ruangan dan mengambil surat dengan namanya tertulis secara bergaya di bagian depannya.
Saat menatap namanya, matahari terbenam di luar jendela. Kegelapan turun, bukan hanya di daratan, tetapi juga di dalam dirinya.
Ia menerima kabar bahwa Odette tidak enak badan dari gadis pelayan yang menerobos area perburuan seperti domba tersesat.
Ada petunjuk bahwa Odette mungkin menderita mual akibat kehamilan, meskipun Odette mengklaim bahwa itu sakit maag.
Sebagai keluarga yang sopan dan terhormat, Duchess telah meminjamkan mobil kepada Odette untuk membawanya kembali ke hotel.
Ia bahkan menawarkan Bastian penggunaan dokter keluarga mereka, dan bersedia mengirimnya ke hotel jika diperlukan. Bastian menduga ada motif tersembunyi.
Odette telah melarikan diri.
Bastian mengetahuinya bahkan sebelum membuka pintu suite. Anjing kesayangannya juga hilang.
Pelayan hotel tidak menyadari bahwa Nyonya Odette sudah kembali lebih awal, apalagi pergi membawa barang bawaannya. Pelayan yang dibawa Odette juga hilang.
Bastian menatap tajam amplop di tangannya, dengan tulisan namanya yang berlekuk di bagian depan.
Kegelapan di ruangan semakin dalam saat matahari terbenam, dan perasaannya menggelap.
Ketukan di pintu membawanya kembali pada kenyataan. Ketukan yang mendesak, dan ketika Bastian membuka pintu, pelayan berdiri di depannya.
Ternyata pelayan itu sudah berusaha mencari Odette.
"Saya baru saja kembali dari berbicara dengan staf di Ardenne Mansion. Mereka belum mendengar kabar dari Nyonya Odette maupun pelayannya."
"Baiklah," gumam Bastian datar.
Ia melihat ke tempat tidur anjing, matanya mulai menemukan fokus. Aneh membawa anjing untuk perlajalan jauh.
Pertanda yang jelas bahwa ada sesuatu yang salah, dan jika pikirannya tidak begitu dipenuhi oleh Odette, ia mungkin sudah merasakan ada sesuatu yang janggal.
"Tuan, apakah ada yang lain?"
"Tidak, kau boleh undur diri sekarang. Aku akan menangani istriku," kata Bastian, menarik rokok dan menyalakannya.
"Tapi, Tuan..."
"Tidak perlu khawatir," kata Bastian dengan percaya diri, seolah hanya ada satu kebenaran dalam situasi itu. Pelayan membungkuk singkat dan pergi, menutup pintu di belakangnya.
Bastian tidak bergerak dari tengah lobi masuk. Berdiri seolah seorang penjaga kerajaan yang sedang bertugas, mengisap rokoknya dan menatap namanya di amplop.
Saat ia menyalakan rokok ketiganya, lorong itu sudah gelap gulita.
Ia akhirnya mendapatkan dorongan untuk pindah ke kamar tidur, di mana cahaya api yang redup menerangi ruangan dengan cahaya keemasan yang muram.
Ia duduk di tepi tempat tidur dan menyobek amplop hingga terbuka.
Pertama, aku ingin mengungkapkan betapa aku menyesal karena mengakhiri segalanya seperti ini.
Surat Odette dimulai dengan nada datar, seperti pemberitahuan bank.
Bastian membaca surat itu perlahan, mencerna setiap kata dan berhenti di akhir setiap kalimat untuk menghisap rokoknya.
Aku mencoba menebusmu dengan memenuhi tanggung jawabku yang tersisa, tetapi tampaknya itu hanyalah penipuan diri yang pengecut.
Keserakahanku untuk mendapatkan akhir yang baik, bahkan setelah segalanya telanjur salah, pada akhirnya membawa kita pada bencana terburuk, yakni kita yang saling menghancurkan.
Bahkan sekarang, aku pikir satu-satunya cara untuk memperbaiki kesalahan ini adalah mengakhiri kontrak sesegera mungkin.
Meski tidak benar untuk melarikan diri seperti ini, tetapi mohon mengerti bahwa alasan aku mengambil keputusan yang tidak bertanggung jawab, karena inilah yang terbaik untuk kita semua.
Pelayan yang datang bersamaku adalah keponakan dari pelayan Theodora Klauswitz, salah satu pelayan yang bertindak sebagai mata-mata.
Melalui keponakannya, ia berkomunikasi dengan mereka. Karena pelayan itu sudah pergi, ia tidak lagi menjadi mata-mata Theodora.
Tetapi aku menahan informasi tentang pemecatannya karena takut jika ketahuan, Theodora akan menempatkan orang lain. Aku minta maaf karena secara tidak sengaja menipumu sekali lagi.
Aku telah membereskan masalah pelayan itu dan pergi. Tidak ada gerakan mencurigakan dari keluarga ayahmu.
Baik aku maupun Molly sama-sama korban yang terlantar, jadi informasinya mungkin tidak akurat, tetapi setidaknya sejauh yang aku tahu situasinya sudah aman.
Terlampir surat perceraian dan surat permintaan maaf kepada Yang Mulia Kaisar atas dosa-dosaku.
Aku berjanji untuk dengan rendah hati menerima alasan resmi perceraian apa pun yang ditetapkan. Tolong tangani dengan cara yang dapat meminimalkan kerugianmu.
Aku minta maaf karena kita harus mengakhiri kontrak yang berbeda dari yang asli.
Aku akan memenuhi tanggung jawab dengan hidup tenang di luar duniamu.
Bastian menatap surat itu. Tulisan tangannya yang elegan berkontras dengan isinya.
Saat ia perlahan membalik ke halaman terakhir, ia menemukan catatan yang ditujukan kepada Kaisar dan dokumen perceraian.
Dari membuat ayahnya lumpuh, hingga memata-matai keluarganya, dan kini drama pelariannya—itu catatan dosa yang ditulis secara rinci.
Seolah Odette sudah gila karena rasa bersalah dan ingin mati di tangan Kaisar.
Bastian memeriksa waktu.
Ia tahu Odette tidak akan begitu saja menurut, tetapi ia tidak pernah berpikir Odette akan melakukan sesuatu yang segila ini.
Setidaknya, ia tidak akan sebodoh itu hingga mengabaikan risikonya.
Mengapa?
Bastian berjalan ke perapian, menggali semua kenangan yang ia miliki tentang Odette.
Tindakan melempar surat-surat dan dokumen perceraian terasa terlalu sederhana.
"Keluarga," gumam Bastian, mencapai satu-satunya kesimpulan yang masuk akal baginya.
Dalam hal keluarga, Odette sangat ceroboh dan rentan pada kebodohan.
Ayahnya sudah meninggal, dan saudara tirinya meninggalkannya demi memulai keluarganya sendiri.
Dan hanya menyisakan satu kemungkinan. Tepat ketika Bastian mencapai kesimpulan itu, terdengar ketukan di pintu.
Memastikan kertas-kertas di perapian hangus menjadi abu, ia pergi untuk membuka pintu.
Ketika ia membuka pintu, ada seorang anggota staf ditemani oleh seorang anak laki-laki muda yang menenteng tas cokelat kusam. Bastian menatap mereka dengan heran.
"Anak ini membawa surat untuk Mayor Klauswitz, dengan instruksi ketat bahwa surat itu hanya boleh diserahkan kepada Anda," kata pelayan hotel.
Anak laki-laki mengulurkan secarik kertas yang dilipat kasar.
Bastian mengangguk, "Baiklah."
Bastian mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan selembar uang kertas bernilai kecil kepada anak laki-laki.
Wajahnya bersinar gembira saat ia menukar potongan kertas terlipat dengan uang kertas bank.
Bastian tidak mendengar anak laki-laki itu mengucapkan terima kasih maupun staf hotel mengucapkan salam perpisahan.
Ia terpaku pada surat itu, dan saat ia membukanya, ia melihat nama yang ia tunggu-tunggu.
Surat itu dari Keller, detektif yang telah mengawasi Odette selama dua tahun terakhir.
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar