Bastian Chapter 125
- Crystal Zee

- 21 Nov 2025
- 5 menit membaca
Langit, Tempat Burung Terbang
"Makan siang sudah siap, Nyonya," ucap kepala pelayan Duke.
Norma Catharina von Herhardt mengangguk sambil tersenyum.
Ia menatap para hadirin dengan wajah ceria saat gumaman percakapan tenang perlahan mereda mendengar pengumuman makan siang.
Odette nyaris tak memperhatikan, masih menatap hampa pada cangkir teh di tangannya.
"Baiklah, kalau begitu, haruskah kita bergerak ke tempat duduk?" ujar Norma, memberi isyarat kepada semua orang untuk menuju meja makan siang. Perhatiannya yang tak biasa tertuju pada Odette.
Mengerti isyarat Norma, Odette dengan lembut meletakkan cangkir tehnya dan pergi untuk mendampingi Duchess Dowager Herhardt.
Agak tidak biasa bagi Odette untuk memainkan peran ini. Biasanya peran mendampingi Duchess Dowager diserahkan kepada tamu dengan peringkat tertinggi.
Isyarat itu adalah upaya Norma untuk tidak mengucilkan wanita yang asing baginya.
Para wanita berjalan menuju ruang makan, dengan Norma dan Odette memimpin.
Saat mereka menyusuri lorong panjang, dengan jendela-jendela tinggi yang megah di kedua sisi, mereka melihat perkebunan luas milik Duke yang terhormat.
Keindahannya terbentang di depan mata mereka, sebanding dengan surga.
Sementara itu, para pria berkumpul dalam kelompok, semua mengenakan pakaian berburu cokelat berdebu, dan bergerak menuju hutan di belakang taman.
Odette dapat dengan mudah melihat Bastian. Ia sedang terlibat dalam percakapan dengan Duke Herhardt. Posturnya yang khas, tegak, dan gerakannya yang terkendali selalu sama, bahkan di atas kuda.
Kilasan malam sebelumnya, saat mereka meledak dalam amarah satu sama lain, menyergap Odette. Semuanya terasa seperti mimpi.
"Nyonya Klauswitz tampaknya tidak bisa mengalihkan pandangannya dari suaminya," suara menggoda memecah lamunan Odette.
Tersentak dari lamunannya, Odette berbalik menghadap Norma, yang tertawa renyah dengan nada menggoda.
"Bahkan setelah tiga tahun menikah, bukankah sudah saatnya masa bulan madu kalian berakhir? Sungguh menarik."
"Mereka menghabiskan dua tahun terpisah. Mereka pasti sangat menyayangi satu sama lain."
"Ini pasti masa terbaik dalam hubungan mereka, karena belum dikaruniai anak dan hal-hal semacamnya," seorang wanita paruh baya ikut menimpali.
Tawa kecil berdesir melalui kerumunan para wanita. Odette menundukkan matanya, berusaha menyembunyikan senyum malu-malunya.
"Memang, kalau dipikir-pikir, bukankah Matthias harus cepat-cepat mencari istri yang baik seperti Odette? Dia melewatkan kebahagiaan seperti itu," keluh Elysee von Herhardt, mengawasi putranya berangkat.
Percakapan dengan mulus beralih ke pernikahan Duke Herhardt yang akan datang, yang direncanakan akan dilangsungkan tahun depan.
Dengan sebuah desahan, Odette mengalihkan perhatiannya kembali ke koridor cerah yang mereka lewati, memikirkan rencana untuk meninggalkan acara.
Suara terompet yang jauh menarik perhatiannya ke luar jendela, pada pesta berburu, yang kini berada di tepi hutan.
Meskipun jarak menyulitkan untuk melihat wajah para penunggang kuda, Odette masih dapat dengan mudah mengidentifikasi Bastian.
Dari pertemuan pertama mereka hingga hari ini, kenangan melintas di benak Odette, seolah melintasi lanskap musim dingin yang suram.
Hubungan mereka hanyalah urusan kenyamanan, terjalin demi keuntungan bersama.
Betapa cepatnya hubungan itu beralih untuk saling melahap, dan jika hubungan mereka berlanjut lebih lama, bekas luka akan menjadi lebih dalam.
Sudah waktunya untuk mengakhirinya.
Setelah mempertimbangkan semua pikirannya dengan cermat, Odette berjalan menuju ruang makan.
Duduk di kursinya, ia terlibat dalam percakapan santai dengan sesama tamu. Saat pertemuan berakhir, ia mempertimbangkan momen yang tepat untuk undur diri.
Namun, tepat saat hidangan utama disajikan, kejadian tak terduga terjadi. Aroma tiram mencapai hidungnya, menyebabkan perutnya mual dan terasa tidak nyaman.
"Anda baik-baik saja, Nyonya Klauswitz?" tanya istri seorang hakim yang duduk di sebelah Odette.
Odette mengangguk sambil menutupi mulutnya dengan serbet, berusaha sekuat tenaga menahan mual yang menjalar di perutnya.
"Oh, Sayangku, apakah ada yang salah dengan kesehatanmu?" kata Elysee.
"Saya benar-benar minta maaf, ini hanya sakit maag," kata Odette, menelan ludah dengan cemas.
"Aku rasa tidak," kata Elysee dengan senyum penuh arti di bibirnya. "Mungkin lebih baik untuk berbaring di kamar tamu sebentar. Aku akan mengirim seseorang untuk memanggil Mayor Klauswitz..."
"Jangan, Duchess!" kata Odette, sedikit lebih tajam dari yang ia inginkan. "Saya tidak ingin menyebabkan kesulitan, terutama karena ini hanya masalah kecil. Dengan izin Anda, saya pikir saya akan kembali ke hotel."
"Sendirian, tanpa suamimu?" kata Norma, ia terlihat bingung.
"Tolong, saya sudah cukup buruk membuat keributan di sini. Saya tidak ingin mengusik acara suami saya juga. Saya hanya ingin kembali ke hotel secara diam-diam."
Odette memohon pada rasa hormat dan kepatutan para wanita. Sebuah permohonan yang tak dapat diabaikan.
Duke Herhardt yang pertama mendapat buruan. Pelurunya dengan cepat mengakhiri hidup seekor rusa yang berlari melintasi semak-semak.
"Anda sekarang juga tertarik berburu?" sindir Riette von Lindman disertai tepukan tangan.
Matthias tidak segera merespons saat ia mengubah arah kudanya.
Bastian menjaga jarak sopan, lebih banyak mendengarkan daripada menanggapi.
Perburuan itu diselenggarakan oleh Riette, sepupu jauh Duke. Matthias sendiri tidak gemar berburu dan menggunakan acara itu sebagai sarana jejaring bisnis serta mencari calon mitra.
Bastian juga tidak memiliki minat besar dalam berburu, tetapi ia telah menunggu kesempatan untuk berbicara dengan Duke, dan sekarang tampaknya menjadi waktu yang tepat.
Ketika Riette berhasil menangkap seekor kelinci, suasana perburuan menjadi lebih hidup.
Para pengembala menggiring anjing-anjing ke dekat sungai, tempat peluang menembak bebek lebih besar. Ketenangan hutan dengan cepat terusik oleh suara derap kuku kuda dan suara tembakan.
Bastian bersabar, hanya membidik apa yang ia yakini dapat ditembak, dan salah satu targetnya adalah unggas air putih.
Tepat ketika Bastian hendak menembak, ia memperhatikan bahwa Matthias juga membidik target yang sama.
Bastian mengalah dan melepaskan bidikannya, hanya saja Duke meleset. Ia tertegun, bertanya-tanya apakah Duke sengaja melakukannya.
"Wah, lihat itu, Duke Herhardt benar-benar meleset. Sungguh hari yang menghibur," ujar Riette, mengundang tawa pria-pria lain. Di sisi lain, Matthias hanya tersenyum.
Bastian mengangkat pandangannya dan memperhatikan burung-burung melayang melintasi langit.
Meskipun rasa penasarannya terusik mengapa Duke Herhardt, yang merupakan penembak ulung, memilih untuk meleset, ia memutuskan bahwa itu pertanyaan yang tidak penting.
Tepat pada saat itu, seorang gadis kecil keluar berlari dari hutan, menuju ke arah mereka dari seberang jalan.
"Tunggu, mengapa gadis itu di sini?" kata Riette terkejut.
Saat tamu tak diundang berjalan menuju arena perburuan, semua mata, termasuk para pelayan dan rekan lainnya, menoleh ke arahnya.
Bastian mengamati gadis kecil itu dengan tatapan curiga.
Rupanya ia salah satu pelayan keluarga Herhardt, dan meskipun para pengembala mencoba menghalau gadis itu, ia mengabaikan mereka dan mendekati Duke Herhardt.
Bastian memutuskan bahwa gadis itu tidak penting untuk diperhatikan dan mengalihkan perhatiannya kembali ke perburuan.
Matthias mencoba mengalihkan percakapan dan perhatian dari gadis itu, sementara para pengembala mengurusnya.
"Di area hutan sebelah sana biasanya rusa dapat ditemukan," kata Matthias, dan pesta berburu mulai bergerak ke sana.
Angin mulai berembus, mengantar momen ketenangan sesaat yang mendorong semua orang untuk merapat.
Di atas, hamparan luas langit biru tanpa awan berfungsi sebagai latar belakang yang tenteram. Tatapan Bastian beralih perlahan, hingga ia bertemu mata Matthias, menciptakan koneksi tanpa kata di antara keduanya.
"Mayor Klauswitz."
Mendengar namanya sendiri secara mendadak, Bastian dengan cepat mengalihkan perhatiannya kembali ke orang yang memanggilnya, kembali menanggapi sepenuhnya.
"Ya, Your Grace?"
Matthias memberi isyarat kepada Bastian untuk mendekat dan memperhatikan baik-baik percakapannya. Suasana bergeser karena semua orang merasa wajib untuk ikut mendengarkan.
Bastian berdiri berdampingan dengan Duke Herhardt, di barisan belakang pesta berburu.
Yang lain, yang sadar tak ada yang bisa mereka peroleh dengan menguping, segera memacu kuda menuju hutan tempat rusa dilaporkan berada.
"Ah, tentu saja," balas Bastian dengan senyum sopan.
Setelah itu, percakapan yang sempat terhenti kembali berlanjut saat Riette memulai diskusi ringan. Segera, hutan dipenuhi dengan obrolan hidup dari anggota pesta berburu.
Bastian mendapati dirinya berada di samping Matthias. Keduanya dengan santai menunggang kuda di barisan belakang kelompok saat yang lain berpacu kencang ke jantung hutan.
Memanfaatkan kesempatan itu, Bastian dan Matthias melanjutkan diskusi mereka sebelumnya dalam suasana damai dan santai.
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar