top of page

A Barbaric Proposal Side Story 22

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 20 Des 2025
  • 5 menit membaca

Terungkapnya Duri Landak

[Seira] "Apa kau sedang merendahkan statusku?"

Ekspresi Putri Seira tiba-tiba menjadi dingin. Dief terkejut melihat perubahan ekspresinya dan mengangkat bahu.

Wajah yang membuat Dief tanpa sadar mengucapkan kata cantik saat pertama kali melihatnya, entah kenapa sekarang wajahnya terlihat menakutkan.

[Shellan] "Tentu saja tidak. Aku hanya ingin tahu."

Tapi jika berbicara tentang menakutkan, Shellan juga tidak kalah menakutkan. Faktanya, Dief terkadang berpikir Shellan lebih menakutkan daripada Ayah mereka.

[Shellan] "Aku sama sekali tidak tahu siapa ibumu, Putri."

[Seira] "......Kau pasti tahu aku bukan anak dari Istri Pangeran Alito"

[Shellan] "Apa hubungannya? Kau tetaplah keluarga Grand Duke Alito?"

[Seira] "Benarkah hanya itu maksudmu?"

Putri Seira tampaknya tidak akan mudah membuka mulut. Dia malah memasang ekspresi lebih tersakiti daripada saat dia jatuh dari kuda, sambil menggigit bibir.

Ekspresinya seperti orang yang menggenggam erat rahasia yang tidak ingin dibocorkan.

[Seira] "Aku tidak ingin bicara lagi. Kalian semua, tolong pergi."

Putri Seira memalingkan muka dengan kasar.

Dief menatap Shellan dengan tatapan cemas. Shellan mengerutkan kening tapi mengangguk seolah tidak punya pilihan.

[Shellan] "Kalau begitu, istirahatlah. Aku harap kau cepat sembuh, Putri."

[Dief] "Semoga lekas sembuh."

Anak-anak berbalik dengan wajah canggung.

Begitu mereka berbalik, terdengar suara sesuatu jatuh dari belakang.

Prang!

[Dief] "Astaga...!"

Itu suara vas berisi bunga yang susah payah dia bawa; didorong oleh Putri Seira hingga jatuh ke lantai.

Shellan memegang tangan Dief.

[Shellan] "Jangan lihat, Dief. Pura-pura kau tidak tahu dan ayo keluar."

Dief menundukkan kepalanya dengan muram.

[Dief] "Padahal aku sudah susah payah membawanya..."

Shellan menepuk punggung tangannya seolah mengerti perasaan Dief.

[Shellan] "Tidak apa-apa. Bunga-bunga itu sudah memenuhi tugasnya."

[Dief] "Benarkah......?"

[Shellan] "Ya. Ibu sudah melihatnya."

Sejak awal, bunga-bunga itu bukan untuk Putri Seira, melainkan untuk ditunjukkan kepada Liene.

Wajah Dief sedikit cerah.

[Dief] "Ya. Ayah dan Ibu tidak jadi berlibur hari ini."

[Shellan] "Ya. Besok aku juga akan memastikan mereka tetap di sini."

Dief merasa jauh lebih baik setelah mendengar perkataan Shellan yang dapat diandalkan.

Sementara itu, Shellan menyadari ini saatnya mencari orang lain yang mau membuka mulut, alih-alih Putri Seira yang sudah menegakkan semua durinya seperti landak dan tidak mungkin dia selidiki.

Mencari orang yang mau membuka mulut tidaklah sulit.

[Shellan] "Sir Renfel."

Shellan tersenyum cerah dan melambai ke arah Klima.

Hari ini Klima sedang melatih para ksatria. Dia memiliki unit kecil tersendiri di Ksatria Arsak. Unit yang terdiri dari empat anak magang baru dan satu ksatria senior, telah berada di bawah pelatihan Klima selama setahun.

Sebenarnya, unit tanpa nama ini adalah untuk mewariskan teknik pembunuhan Klima.

Sekarang mereka di tahap pelatihan, mereka akan menjadi pengamanan terkuat saat si kembar tumbuh dan melakukan perjalanan atau kunjungan ke negara lain, sama seperti yang dilakukan Klima sebelumnya.

[Klima] "Ah, Putri. Anda datang. Pangeran juga."

Klima tersenyum lebar tanpa menyembunyikan apa pun.

Semua orang di kastil baik, tapi Shellan berpikir Klima orang yang paling menyayangi mereka.

Bahkan sekarang, jika mereka diam-diam meminta Klima membawa mereka ke perpustakaan, Klima akan menggendongnya dan turun ke saluran air bawah tanah, meskipun Ayah mereka sudah mengeluarkan larangan ketat.

[Shellan] "Kau sibuk hari ini?"

[Klima] "Uh..."

Mendengarnya, Klima pertama-tama melihat sekeliling. Mata cokelatnya yang lembut menunjukkan sedikit keraguan, lalu dia menggelengkan kepala.

[Klima] "Saya akan meluangkan waktu.

Ekspresinya menjadi serius.

[Klima] Saya akan membawa Putri dan Pangeran pergi, jadi ulangi latihan yang kalian lakukan kemarin."

Itu sebabnya Shellan menyukai Klima. Dia orang yang akan mendengarkannya apa pun yang terjadi.

[Shellan] "Hanya sebentar."

[Klima] "Ah...... Kalau begitu kita di sini saja?"

[Shellan] "Hmm...... Sebaiknya ke tempat yang tidak ada telinga yang mendengarkan."

[Klima] "Baik, saya mengerti."

Klima yang sempat ragu, tetapi tetap membawa anak-anak ke halaman belakang.

Halaman belakang punya banyak jalur yang mengarah ke luar kastil, dan Klima mengetahui semua jalurnya.

Tentu saja, Ksatria Arsak juga mengetahuinya, tapi Klima yang terbaik dalam menemukan tempat tanpa ada telinga yang mendengarkan.

[Klima] "Di sini aman. Tidak ada seorang pun di jarak yang bisa mendengar suara."

Klima mengangkat Shellan dan menempatkannya di atas cabang pohon yang kokoh. Dia menempatkan Dief di sisi berlawanan.

Ketinggiannya kurang lebih sejajar dengan mata Klima ketika dia mendongak. Daun-daun lebat menutupi tubuh anak-anak.

Shellan menyeringai, dia merasakan angin yang bertiup melalui dedaunan terasa sejuk.

[Shellan] "Sir Renfel tahu semua orang Alito, kan?"

[Klima] "Ya. Saya sangat tahu."

Klima mengangguk tanpa ragu.

Sejak utusan Alito meracuni Liene, Klima menyelidiki keluarga itu secara menyeluruh. Meskipun sekarang hubungan antara negara bersahabat dan seharusnya tidak ada masalah, tapi itu tidak berlaku bagi Klima.

[Shellan] "Aku sudah menduganya. Kalau begitu, apa kau tahu Putri Seira juga?"

Wajah Klima berubah.

[Klima] "Uh...... Tidak. Itu... saya tidak tahu dengan baik."

[Shellan] "Astaga, tidak mungkin."

Setelah Klima selidiki, orang yang mungkin menggunakan pembunuh bayaran atau racun, bukanlah gadis berusia empat belas tahun.

Selain itu, Putri Seira baru saja resmi menjadi bagian dari keluarga Grand Duke belum lama ini, jadi dia sama sekali tidak tahu.

Dia mengepalkan tangan tanpa bersuara dan berkata dengan nada heroik.

[Klima] "Maafkan saya, Putri. Beri saya waktu, dan saya akan mencari tahu."

Di sini, ketika Klima mengatakan dia akan mencari tahu, berarti dia akan segera berlari ke Alito, menyembunyikan dirinya di kegelapan, dan mencari rahasia kotor apa pun yang mungkin disembunyikan.

Tentu saja, Klima memperkirakan dia membutuhkan waktu setidaknya satu bulan, atau paling lama setengah tahun.

Shellan tidak tahu sejauh itu, tapi dia tidak langsung kecewa. Klima bilang dia tahu banyak tentang keluarga Grand Duke. Dia bukanlah orang yang suka melebih-lebihkan atau mengatakan kebohongan.

[Shellan] "Dia anak Pangeran Alito. Kalau begitu, kau tahu siapa ibu Putri Seira?"

[Klima] "Uh, apakah Istri Pangeran Alito?"

[Shellan] "Dia bilang bukan."

Klima mengangguk.

[Klima] "Berarti Ibunya mungkin lima wanita ini: Broar, Ashvik, Riukan, Poshenen, atau Rodhus."

[Dief] "Hah? Kenapa dia punya lima ibu?"

Dief, yang belum tahu banyak cerita rumit dan kotor orang dewasa, bertanya dengan polos.

[Shellan] "Kau tidak perlu tahu, jadi diam saja."

[Dief] "Kenapa aku tidak perlu tahu?"

[Shellan] "Kau masih kecil, kan?"

Dief memasang wajah tidak percaya.

[Dief] "Shellan dan aku kembar, lho?"

[Shellan] "Ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan angka, Dief. Fakta bahwa kau tidak tahu adalah bukti bahwa kau masih kecil."

[Dief] "Itu..."

Dief tersinggung tapi kemudian terdiam karena berpikir memang masih banyak yang tidak dia ketahui. Fakta bahwa Shellan tahu jauh lebih banyak darinya adalah kebenaran.

[Shellan] "Apa ada orang yang sangat cantik di antara mereka? Orang yang sama persis dengan Putri Seira."

[Klima] "Putri. Saya tidak tahu Putri Seira terlihat seperti apa."

[Shellan] "Astaga. Kau masih belum melihatnya? Putri Seira... rambutnya hitam. Dan matanya..."

Dief menambahkan.

[Dief] "Ungu."

Dief mengira warna ungu itu cantik, seperti sulaman pada gaun berlengan bulat yang sering Ibu mereka kenakan di musim panas. Sulaman bunga ungu tua itu katanya dibuat sendiri oleh Nyonya Flambard.

Saat si kembar berusia satu tahun, Nyonya Flambard membuat tiga set pakaian dengan sulaman yang sama untuk Liene dan si kembar. Saat mereka sudah besar dan tidak bisa lagi mengenakan pakaian yang sama, Liene masih sering mengenakannya. Pakaian itu adalah pakaian favorit Dief.

[Klima] "Hitam dan...... ungu?"

Ekspresi Klima mengeras.

[Shellan] "Ya. Apa kau tahu?"

[Klima] "Ini...... tidak baik."

[Shellan] "Kenapa?"

[Dief] "Apa yang tidak baik?"

Dief terkejut dan mata Shellan berbinar.

Siapa pun yang mirip dengan Putri Seira pasti bukan orang baik. Jika dia orang baik, Ayah dan Ibu pasti akan menyambut Putri Seira.

[Klima] "Sepengetahuan saya, hanya ada satu orang seperti itu."

Sayangnya, Klima tidak tahu persis siapa yang dibawa oleh Pangeran Alito, dan apa yang sedang terjadi. Dia bahkan belum mendengar kabar bahwa pergelangan kaki Putri Seira terluka.

Terlebih lagi, Liene dan Black tidak menyangka Shellan akan mencari Klima secepat ini.

Sungguh disayangkan.

[Shellan] "Siapa dia? Apa dia ibu Putri Seira?"

[Klima] "Tidak. Dia orang yang seharusnya tidak boleh menjadi ibu."

[Shellan] "Kenapa?"

[Klima] "Karena dia adalah Putri Blini."

[Shellan] "Putri Blini?"

Anak-anak baru pertama kali mendengar nama Putri Blini.

[Dief] "Siapa dia? Dia Putri Alito, jadi... dia sama seperti Pangeran Alito?"

Sementara Dief bertanya, Shellan fokus pada perkataan Klima "dia orang yang seharusnya tidak boleh menjadi ibu."

Dia seorang Putri tapi tidak ada yang memberitahu bahwa dia ada. Mereka hanya bilang dia sudah meninggal.

Berarti dia melakukan sesuatu yang buruk.

Shellan bertanya kepada Klima.

[Shellan] "Apa yang dia lakukan sampai Ibu sangat tidak menyukainya?"

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page