Bastian Chapter 119
- Crystal Zee

- 10 Nov 2025
- 6 menit membaca
Elang Melayang
Hal pertama yang Odette sadari, ketika membuka mata, adalah langit-langit yang berbeda. Alih-alih bayangan renda biasa yang dilemparkan oleh tirai tempat tidurnya yang berkaki empat, langit-langitnya malah berwarna abu-abu kusam.
"Syukurlah," sebuah suara desahan bergumam dari suatu tempat dalam kabut kebingungan. Odette mengenali suara itu; meskipun nadanya berbeda, tapi masih membangkitkan gambaran hari yang bermandikan sinar matahari.
"Tuan Xanders?" Odette membisikkan namanya melalui bibir yang kering. Ia perlahan menoleh untuk melihat pria yang duduk di samping tempat tidur, menatapnya dengan khawatir.
"Ah, kau sudah bangun. Kau pingsan tak lama setelah keluar dari mobil. Kami membawamu pulang untuk memulihkan diri," kata Maximin Xanders.
"Oh, ya ampun, benarkah? Terima kasih," kata Odette dengan lemah.
Butuh banyak upaya untuk duduk tegak; tubuhnya terasa seperti beban timah. Maximin memberinya segelas air dan pergi untuk menyesuaikan tirai agar matahari tidak menyinari langsung ke wajahnya.
Minum air dengan antusias, Odette merasa dirinya kembali ke keadaan normal dan merenungkan ingatannya sejenak.
Odette sudah tidak enak badan bahkan sebelum Count Xanders datang berkunjung. Ia menggigil, dan keringat dingin mengalir di tubuhnya. Terlepas dari segalanya, ia bertahan dengan cukup baik, tetapi selama perjalanan mobil kondisinya memburuk secara tak terduga. Mogok makannya kemungkinan besar adalah penyebab mualnya yang tiba-tiba.
"Aku akan menghubungi Pangkalan Angkatan Laut, agar tahu apakah Mayor Klauswitz bisa datang dan..."
"Tidak, tolong jangan," kata Odette tajam. "Dia sangat sibuk. Saya tidak ingin mengkhawatirkan suami saya karena hal sekecil ini."
"Aku pikir kehamilan bukanlah hal kecil, Odette. Aku yakin suamimu akan senang mendengar berita gembira itu sesegera mungkin."
"Nah,... apa?"
"Dokter Zagers mengonfirmasinya setelah ia memeriksamu. Meskipun ia tidak bisa memastikan tanpa pemeriksaan yang tepat, ia menyebutkan bahwa kehamilan sangat mungkin, dan membuat resep obat menjadi sulit. Dia menyarankan agar kau segera menemui tenaga medis."
"Itu tidak mungkin benar," kata Odette, berkedip pada Maximin.
"Tenang saja, kau masih dalam pemulihan. Ketika istri saya mengandung Alma, ia menunjukkan gejala yang kurang lebih sama."
"Tidak, saya pikir mungkin ada semacam kesalahpahaman, Tuan Xanders. Saya tidak berpikir saya hamil. Saya tahu tubuh saya lebih baik daripada siapa pun," Odette menegaskan kepastiannya tanpa keraguan. "Terima kasih atas perhatian Anda, dan saya sangat berterima kasih, tetapi saya harus pergi sekarang."
Odette bangkit dari tempat tidur dengan tergesa-gesa, sehingga ia hampir segera jatuh ke lantai. Awalnya, Maximin mengira Odette mencoba mundur ke bawah tempat tidur. Ia bergegas membantu Odette berdiri dan bisa merasakan kulit Odette yang dingin dan lembap melalui tangannya yang gemetar.
Maximin menuntun Odette ke kursi di depan jendela yang terbuka. Ketika Odette mencoba bangkit dari kursi, Maximin meletakkan tangan yang kokoh di bahunya dan menahannya di tempat.
"Jika itu sesuatu yang tidak ingin kau bicarakan, aku akan menghormati keinginanmu. Aku berjanji untuk tidak ikut campur, tetapi kau harus beristirahat di sini sebentar, dan kemudian kita bisa pergi bersama."
"Tuan Xanders, itu..."
"Hal yang bertanggung jawab untuk dilakukan. Berangkat sekarang dengan kondisimu sekarang sangat berbahaya. Aku akan menemanimu ke tujuanmu, lalu mengantarmu pulang."
Maximin merendahkan posturnya sehingga matanya sejajar dengan Odette. Maximin tahu ia harus memanggil suaminya, tetapi Odette tidak ingin ia terlibat, dan ia harus menghormati itu. Odette terlihat sangat ketakutan ketika ia menyebutkan akan menghubungi suaminya, tetapi Maximin tidak bisa hanya melihat dan membiarkan Odette melanjutkan perjalanan dengan kondisi seperti ini.
Odette hendak berterima kasih kepada Maximin, ketika ia dipotong oleh ketukan lembut di pintu. "Count, sudah waktunya," kata seorang pelayan melalui pintu.
"Oh, tentu saja. Saya punya janji dengan kepala sekolah Alma, maafkan saya, tetapi saya harus pergi. Tinggallah selama yang kau butuhkan. Aku akan kembali sekitar pukul lima."
Maximin menyelimuti bahu Odette sebelum ia meninggalkannya di depan perapian. Ia menuju kamar Alma, tetapi gadis itu sudah bangun dari tidurnya dan berlari menyusuri koridor.
"Ayah, apakah Nyonya Klauswitz akan bepergian? Ada banyak pakaian dan sepatu cantik di tasnya. Aku melihatnya." Alma meledak dengan kegembiraan.
"Kau tidak boleh mengobrak-abrik barang orang lain tanpa izin, Alma," tegur Maximin.
Alma menatapnya dengan mata besar seperti anak anjing. "Tidak, tapi, tasnya jatuh, dan aku membantu memasukkan semuanya kembali. Aku tidak melakukan apa-apa."
"Apa ini?" Maximin melihat sesuatu berkilauan di tangan Alma.
"Meg kecil. Benda ini jatuh dari tas. Aku ingin menunjukkannya kepada Nyonya Klauswitz," kata Alma sambil menangis, mengulurkan tangannya. Itu ornamen kristal kecil seekor anjing yang sedikit mirip dengan milik Margrethe.
Matahari sudah mulai terbenam dan menyelimuti gang dalam bayangan yang semakin dalam. Odette mempercepat langkahnya saat melihat warna-warna senja yang cerah melukis langit, kecemasan di hati mendesaknya untuk meningkatkan kecepatan.
Apakah Tuan Xanders sudah kembali? Pikiran itu melintas di benaknya.
Odette tahu bahwa Maximin akan merahasiakannya; jika ia berniat menghubungi Bastian, ia pasti sudah melakukannya sejak tadi, dan Odette mungkin tidak akan punya kesempatan untuk pergi. Bagaimanapun, Odette ingin memastikan ia harus kembali sebelum Maximin. Ia tidak ingin menyebabkan kekhawatiran lagi.
Odette mencapai gang-gang sempit, seperti terowongan semut, dan tiba di toko gadai. Odette dengan lembut mendorong pintu hingga terbuka. Pemilik tua, yang sedang tidur siang di sudut toko, tiba-tiba terbangun saat bel berbunyi.
Meletakkan tas yang ia pegang ke atas meja, Odette menyaksikan pemilik toko gadai yang mengenakan kacamata bulat tua yang tergantung di lehernya, mulai memeriksa isinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan dari balik kerudung hitamnya, Odette merasakan sekilas pandangan pemilik toko.
"Apakah Anda menjual akan ini juga?" Sambil memegang amplop cokelat di tangannya, yang tidak Odette kenali, pemilik toko gadai bertanya.
"... Tidak." Odette segera mengambilnya. Ia belum pernah melihat amplop itu sebelumnya, dan kebingungannya bertambah ketika ia melihat lambang keluarga Xanders pada segel lilin—seekor elang melayang.
Odette berjalan ke jendela dan membuka amplop itu. Betapa terkejutnya ia melihat uang di dalamnya. Surat tulisan tangan yang ditulis tergesa-gesa, karena itu bukan tulisan tangan Count yang biasanya rapi dan berputar-putar.
"Alma tidak sengaja menjatuhkan tasmu dan merusak sesuatu milikmu. Mohon terima uang ini untuk barang si anjing kecil yang rusak, dan permintaan maafku atas kesalahan putriku."
Baru saat itulah Odette teringat tidak adanya ornamen kristal yang telah ia kemas di antara barang-barang itu. Yang lebih aneh adalah perilaku Xanders dan kesediaannya yang tampak untuk menutup mata terhadap serangkaian peristiwa aneh.
Sejumlah besar uang di amplop jauh lebih banyak daripada nilai ornamen kristal. Tentu, ia menghargainya, tetapi ornamen itu masih bisa dibeli dari pedagang jalanan yang murah. Count pasti tahu bahwa ornamen itu tidak sama nilainya dengan jumlah yang ia masukkan ke dalam amplop.
Saat Odette keluar dari gang yang semakin gelap, surat itu menjadi sedikit lebih masuk akal baginya.
"Aku selalu siap dan bersedia membantumu dengan cara apa pun yang aku bisa."
Ketika pemilik toko gadai batuk, Odette diam-diam menyimpan surat itu dan dengan rapi meletakkan uang di tas tangannya. Dengan air mata menggenang dan tenggorokan yang tercekat menekan emosinya, Odette kembali ke konter gadai. Sayangnya, setelah negosiasi yang cukup sulit, ia tidak bisa mendapatkan harga sesuai yang diinginkan, tetapi harganya masih dapat diterima.
Setelah menyerahkan semua barang miliknya, Odette meninggalkan toko gadai. Gang belakang, remang-remang dan diselimuti kegelapan, secara bertahap menjadi hidup dengan cahaya hiburan. Tatapannya beralih ke sarang perjudian yang terang benderang di seberang jalan, dan jejak rasa jijik terlihat di wajahnya.
Odette membenci dirinya sendiri karena menginvestasikan waktunya dalam sandiwara menyedihkan untuk menunggu saat ini. Ia menodai segalanya melalui tindakannya sendiri, namun tanpa henti mengkhotbahkan tentang tanggung jawab dan kewajiban.
Ia percaya penebusan dosanya telah tiba, hanya untuk kini menyadari penebusan itu hanya untuk kepuasan diri. Tidak menyadari bahwa hasratnya yang terlarang akan mendorongnya untuk melakukan kesalahan yang lebih besar, ia tidak mengantisipasi bahwa meninggalkan segalanya dan melarikan diri akan mencegah tragedi ini.
Rasa bersalahnya memudar, dan ia menemukan dirinya berdiri di depan sebuah klinik kecil di gang sempit dan gelap. Terlepas dari penampilannya yang tidak mencolok dan kurangnya tanda legalitas, kompetensi dokter tersebut dapat diandalkan. Tempat itu telah menghasilkan uang, di tempat yang sama persis, selama beberapa generasi.
Dengan ragu-ragu, dengan suara Maximin di kepalanya, ia melangkah maju, dan pintu terbuka. Dari dalam, seorang wanita dengan mata bengkak keluar, didukung oleh seorang teman.
"Kau akan mengalami banyak rasa sakit. Jika kau datang sendiri, kau akan berakhir merangkak pulang karena berjalan sangat tidak akan mungkin," peringat wanita yang membantu temannya. Sementara itu, teman yang didukung hanya bisa menangis dan menjerit kesakitan.
"Hei," sebuah suara keras memanggil Odette.
Terkejut oleh sapaan tiba-tiba, Odette berbalik untuk melihat seorang pria di belakang pintu, memberi isyarat padanya. Ada darah kering di celemeknya. Tampaknya adalah jejak yang ditinggalkan oleh wanita sebelumnya.
Odette harus menekan keinginan untuk melarikan diri, tanpa sadar memijat perut bagian bawahnya, dan melangkah menuju bangunan kumuh itu.
Pria itu menatapnya dengan penuh pertimbangan, "Kau belum pernah melukai diri sendiri, kan? Apakah kau mengerti maksudnya?" kata pria itu dengan diam-diam.
Odette mengangguk, pikirannya jauh. Ia menyerahkan amplop berisi uang dari Xanders dan toko gadai kepada pria itu, mengambil langkah yang lebih percaya diri ke dalam klinik.
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar