A Barbaric Proposal Chapter 24
- Crystal Zee

- 21 Mei 2025
- 7 menit membaca
Diperbarui: 18 Okt 2025
ā»Nyanyian Duka (4)ā»
Beruntung masih ada air di kamar mandi. LieneĀ mengambil kain yang sudah dibasahi dan mulai membersihkan luka. Sumbu lilin memendek, nyala api nyaris padam beberapa kali saat berkedip. Namun, mata LieneĀ sudah terbiasa dengan kegelapan, jadi ia bisa dengan mudah melihat benda-benda yang cukup dekat.
[Liene] "Pasti sakit."
Dan kini LieneĀ bisa melihat lukanya bukan hal sepele. Tingkat keparahannya sulit disadari karena tangannya begitu besar, tetapi jika LieneĀ mengalami luka yang sama, tak seorang pun akan meragukan betapa serius lukanya.
[Black] "Aku tidak menyadarinya."
[Liene] "Bagaimana mungkin kau tidak menyadarinya?"
[Black] "ā¦..Aku pasti terburu-buru."
Sulit membayangkan pria sepertinya terburu-buru. Ia tampak seperti batu besar atau pohon; tak peduli kondisi, hujan atau angin, seolah takkan pernah tergoyahkan. LieneĀ tak pernah mengira ada sesuatu di dunia ini yang akan membuatnya terburu-buru.
[Black] "Sebaiknya kau menggunakan obat Tiwakan untuk luka ini. Akan lebih efektif."
Setelah membersihkan luka dari semua kotoran dan darah dengan hati-hati, LieneĀ berpikir sejenak sebelum bertanya:
[Liene] "Maukah kau membasuh wajah juga?"
Begitu tangannya bersih dari semua kotoran, wajahnya justru tampak semakin berantakan.
Black menarik napas dalam sebelum akhirnya menjawab.
[Black] "........Ya."
[Liene] "Kalau begitu, mendekatlah sedikit."
Wajahnya lebih jauh dari tangannya. Black segera mendekat dan menjulurkan wajah ke arah Liene.
[Liene] "Terlaluā¦."
Terlalu⦠terlalu dekat.
Sementara suara LieneĀ nyaris tak terdengar, Black berlutut di lantai.
[Black] "Apa ini sudah pas?"
ā¦Ia masih sangat dekat.
[Liene] "Aku akan melakukannya dengan cepat."
Kemudian, LieneĀ mulai dengan lembut menyeka wajahnya, dimulai dari area yang tidak terlalu kotor untuk menghindari noda pada kain.
Seharusnya aku tidak menawarkan untuk membersihkan wajahnya.
Mungkin lebih baik jika LieneĀ memberitahunya untuk mundur sedikit. Apa karena cahaya lilin terlalu terang? Entah mengapa, LieneĀ bisa melihatnya dengan sangat jelas.
ā¦Ia benar-benar tampan.
[Liene] "Tutup matamu, kumohon."
Begitu LieneĀ menyadari ia memandang pria itu lekat-lekat, ia sadar Black juga memandangnya. Dari jarak sedekat ini, tatapannya yang seperti es terasa terlalu intens. Dan ia bahkan tidak berkedip.
[Black] "Mengapa?"
[Liene] "Kauā¦..terlalu dekat."
[Black] "Meskipun tidak terlalu dekat, akan tetap sama."
Tidak, akan berbeda.
Ketika sedekat ini, tak ada yang bisa disembunyikan dengan aman. Jika ia melihat terlalu dekat, semua yang LieneĀ rasakan ketika melihatnyaāsemua kebingungan, kekaguman, dan keherananāsemuanya akan terlihat.
[Liene] "Tetap saja, tolong pejamkan matamu."
Setelah itu, Black bergumam perlahan.
[Black] "ā¦Aku tidak mau."
[Liene] "Apa?"
[Black] "Aku tidak ingin melakukannya."
[Liene] "ā¦."
Dari mana datangnya kekeraskepalaan ini?
LieneĀ tak yakin apa air masuk ke matanya atau bukan, tetapi bibirnya menegang saat ia berusaha melihat ke depan, mungkin Liene menggosok kain sedikit terlalu keras.
Tetes.
[Liene] "Ahā¦.!"
Namun LieneĀ justru terkejut. Saat rambut di sekitar dahinya tersingkap, tiba-tiba darah mulai menetes dari dahi Black.
[Liene] "Kau juga terluka di dahi!"
Dalam kepanikan, LieneĀ mulai menyisir rambutnya. Ia mengira itu hanya lumpur yang mengering, tetapi semuanya adalah darah kering, membuat luka di tangannya terlihat remeh.
[Liene] "Apa ini juga luput dari perhatianmu?"
[Black] "Aku tahu ada luka di dahi. Aku pikir akan baik-baik saja karena pendarahannya sudah berhenti."
Dan jika LieneĀ tidak mengusiknya, pendarahan takkan terjadi lagi.
[Liene] "ā¦."
Kurasa ini salahku.
Tangan LieneĀ terhenti, dipenuhi penyesalan.
[Liene] "Aku seharusnya tidak menyentuhnya."
[Black] "Tidak apa-apa."
Saat tangan Liene terhenti di udara, Ia meraih tangan Liene lalu meletakkannya ke wajahnya sendiri.

[Black] "Lanjutkan. Tidak sakit."
ā¦Mustahil tidak sakit.
[Liene] "Lepaskan aku, kumohon. Lukamu perlu dibersihkan dengan air."
[Black] "Apa kau akan melakukannya untukku?"
Jujur saja, ada apa dengannya?
Ia seharusnya bisa menangani hal seperti ini sendiriā¦. Ah, tapi tangannya terluka, bukan? Dengan luka seperti itu, LieneĀ tak bisa meminta Black membasuh lukanya sendiri.
Berpikir begitu, ia mengangguk lembut.
[Liene] "Ya, jika kau melepaskanku."
[Black] "ā¦."
Akhirnya, ia mengalah dan tangan LieneĀ terbebas. LieneĀ meletakkan kain dan mulai membimbingnya menuju baskom air.
[Black] "Kau harus menutup matamu."
Black dengan patuh menundukkan kepala di dekat baskom dan LieneĀ mulai membersihkan luka. Seketika, ia melihat darah menyebar ke seluruh air.
Kau terluka parahā¦
Mengapa kau membiarkan luka seserius ini? Mengapa kau langsung datang kemari alih-alih mengobatinya terlebih dahulu?
Liene menyentuhnya dengan hati-hati.
Hanya suara percikan air dan sesekali napas lembut yang terdengar di udara. Keduanya berpadu secara misterius dalam cahaya lembut lilin.
[Liene] "Aku hampir selesai. Tinggal sedikit lagi."
Sulit melihat luka dalam cahaya sangat redup. Begitu LieneĀ berharap ada lebih banyak cahaya, lilin menyala lebih terang sejenak seolah memberinya harapan palsu.
[Liene] "Baiklah, kurasa sudah selesaiā¦. Ah."
Tapi hanya sesaat.
Tiba-tiba, lilin padam. Bau sumbu yang terbakar menari di sekitar hidung LieneĀ saat bara terakhir lilin memudar, menyala paling terang di saat-saat terakhirnya.
[Liene] "Lilinnya padam."
[Black] "Baguslah."
Ruangan yang diselimuti kegelapan membawa nuansa yang berbeda. Dengan indra lain yang tereliminasi, tiba-tiba pendengarannya menjadi tajam, setiap suara menggelitik kulitnya. Bahkan suara rendah Black bergema di ruangan, menghantam telinganya seperti gelombang pasang besar menghantam pergelangan kakinya.
[Liene] "Apa yang�"
[Black] "Lilin padam tepat setelah kau selesai."
[Liene] "ā¦..?"
[Black] "Kau bilang aku bisa menyentuhmu setelah aku bersih."
[Liene] "Itu⦠Bisakah aku bertanya mengapa?"
[Black] "Alasannya tidak terlalu penting."
Desir.
Suara Black mengulurkan tangan ke arah Liene membuat kulitnya merinding, dan ia menarik napas tajam bahkan sebelum Black menyentuhnya.
Selip.
Dalam gelap, ia berpikir Black akan membutuhkan waktu untuk menemukannya, namun Black dengan cepat memeluk pinggang Liene. Duduk berlutut, ia menyandarkan kepala di dada sang putri, rambutnya menggelitik kulit Liene.
LieneĀ kebingungan sehingga ia tak tahu harus berbuat apa dengan tangannya. Akhirnya, ia dengan canggung meletakkannya di kepala Black.
Bukan pertama kali Black memeluknya, tetapi segalanya terasa aneh dan berbeda saat ini. Sangat memalukan.
ā¦Apakah karena gelap?
Banyak orang cenderung bertindak berbeda ketika mereka tidak bisa melihat apa-apa.
[Liene] "Tapi⦠pasti ada alasannya mengapaā¦."
[Black] "Ketika batu itu jatuh dan mengenai kepalakuā¦.."
Black berbicara perlahan, masih memeluk Liene.
[Black] "Tiba-tiba terlintas di benakku⦠pasti rasanya akan menyenangkan saat menyentuhmu, Putri."
[Liene] "Perasaanmuā¦..agak aneh."
[Black] "Aku setuju. Aku tidak pernah merasa seperti ini ketika aku terluka sebelumnya."
[Liene] "ā¦."
LieneĀ teringat kembali pemandangan batu-batu besar yang jatuh dari sisi tebing. Sama sekali tak terbayangkan satu-satunya pikiran Black di momen yang memusingkan adalah dirinya.
Namun mengapa ia berpikir begitu? Jika Ia tidak menyadari lukanya, Black bisa saja mati.
LieneĀ tak mengerti mengapa pria ini begitu menginginkan sentuhannya, tetapi penyebab dirinya terluka membuat Liene ingin memenuhi permintaannya.
[Liene] "Pasti sangat berbahaya."
Tanpa berpikir, LieneĀ mulai dengan lembut menyisir rambutnya dengan jari.
[Black] "ā¦Lukaku tidak terlalu serius."
[Liene] "Tapi tetap saja."
Keduanya tetap berpelukan dalam gelap untuk sementara waktu. Mereka benar-benar diam, kecuali suara tangan LieneĀ membelai kepala Black yang bergema di ruangan kecil nan gelap.
Jauh lebih lembut dari yang terlihat.
Akhirnya, LieneĀ menyadari bagaimana ia menyentuh rambutnya, tetapi ia tak menghentikan diri.
Aku pikir akan lebih kasar dari ini.
Pria ini memiliki begitu banyak sisi berbeda. Jika LieneĀ bisa mengambil pelajaran dari hari ini, itulah dia. Ia tak pernah menyangka pria itu akan rela mempertaruhkan nyawa hanya untuk menyelesaikan permasalahan Liene.
Jika ia bisa mengejutkannya dengan cara seperti itu, mungkin ia juga bisa mengejutkannya dengan cara lain. Jika LieneĀ meluangkan waktu untuk mengenalnya, mungkin ia akan menyadari segalanya berbeda dari yang terlihat.
Semua orang mengatakan bahwa yang diinginkan pria ini adalah balas dendam, tetapi bisa jadi itu tidak benar.
[Black] "ā¦Berbeda dari yang kupikirkan."
Kemudian, Black membisikkan sentimen yang sangat mirip dengan sentimen Liene. Tangan LieneĀ berhenti.
[Liene] "Apa yang berbeda?"
[Black] "Kau, Putri."
[Liene] "Bagaimana bisa?"
[Black] "Dulu, setiap kali aku meminta untuk menyentuhmu, kau hanya akan berdiri kaku dan menahannya."
[Liene] "Ituā¦.."
[Black] "Jadi aku tidak berpikir kau akan menyentuhku dengan suka rela."
[Liene] "ā¦."
[Black] "Dan aku tidak tahu betapa bahagianya aku ketika kau melakukannya."
Menghentikan LieneĀ dengan kata-katanya, Black memiringkan kepala dan menatapnya.
[Black] "Aku senang diriku terluka."
[Liene] "ā¦."
LieneĀ menahan napas. Yang bisa ia lakukan hanyalah melihat saat ia mengambil tangannya yang baru saja membelai kepalanya dan menekankan bibirnya ke sana, memberinya ciuman lembut.
Sesuai dugaan mereka.
Dengan wajah pucat, KardinalĀ segera datang ke kastil. Karena tangga menuju kuil hancur, ia tak punya pilihan selain mengikat tali ke tubuhnya dan turun dari atas. Rupanya Kardinal membuat beberapa kesalahan saat turun, dan saat itu, ia benar-benar mengira dirinya akan mati.
[Kardinal] "Ini semua murka Tuhan!"
KardinalĀ berteriak. LieneĀ mengangkat alis dan menahan kejengkelannya.
Kuil adalah tempat panas untuk gosip. Desas-desus menyebar dengan cepat di sana. Ia pasti sadar bahwa setelah tangga runtuh, orang-orang menyebarkan desas-desus bahwa Tuhan marah karena ia melarang LieneĀ menghadiri pemakaman. Kini ia berteriak keras dalam upaya untuk melawannya.
[Kardinal] "Ini semua karena Tiwakan yang menjijikkan dan kotor itu menodai tanah kita dengan kehadiran mereka!"
Duduk di ruang audiensi, LieneĀ mengerutkan kening dan menekan jari ke pelipisnya.
[Liene] "Bukan itu yang kudengar."
[Kardinal] "Apa? Apa Anda menyangkal firman Tuhan, Tuan Putri?"
[Liene] "Aku hanya mengatakan apa yang kudengar. Mereka bilang Tuhan marah karena aku tidak hadir di pemakaman. Karena Andalah yang memberi perintah itu, bukankah membuat Tuhan murka adalah kesalahan Anda, Kardinal?"
[Kardinal] "Beraninya Anda!? Siapa yang akan menyebarkan kebohongan seperti itu tentang Tuhanā¦!?"
[Liene] "Jika Tuhan benar-benar marah dengan Tiwakan, merekalah yang akan menghadapi hukuman. Namun, tangga kuil hancurā¦. Bukankah niat Tuhan sudah jelas?"
[Kardinal] "ā¦!"
KardinalĀ kehilangan kata-kata, mulutnya ternganga. Ia tak menyangka LieneĀ akan menunjukkan taringnya seperti ini.
Ia bukan orang yang terlalu cerdas, ya,Ā pikir LieneĀ saat KardinalĀ berjuang untuk mengangkat rahangnya dari lantai.
Jika ini adalah sudut pandang yang ia rencanakan, setidaknya ia harus membawa beberapa bukti untuk mengkriminalisasi Tiwakan. Black mungkin memanjat tebing diam-diam untuk mengantisipasi hal seperti ini, membuat LieneĀ teringat betapa tegas dan cerdiknya pria itu.
[Kardinal] "Itu tidak menjelaskan apa pun."
Setelah waktu yang lama, KardinalĀ akhirnya tergagap.
[Kardinal] "Mengapa Tuhan marah pada anak-anak yang setia? Kami hanya didorong untuk menyingkirkan benih-benih jahat, bukankah begitu menurut Anda?"
Kata-katanya digaungkan oleh para pendeta yang dibawanya.
[Liene] "Memang."
Tanpa pertanyaan, para pendeta segera menyuarakan dukungan mereka.
[Kardinal] "Jadi jangan tertipu oleh desas-desus itu, Putri. Tuhan tidak ragu untuk menghukum mereka yang bersalah karena kelalaian."
[Liene] "Memang."
LieneĀ hanya menggelengkan kepalanya pada mereka, wajahnya terlihat sedikit lelah.
[Liene] "Hahā¦.."
Padahal memang benar ia merasa lelah sejak pagi ini.
Semua karena ia begadang tadi malam. Ia menghabiskan terlalu banyak waktu di ruangan gelap itu.
Black akhirnya berdiri dan kembali memeluk Liene. Berbeda dengan sebelumnya saat mereka duduk, pelukan yang berbeda terasa meliputi seluruh tubuhnya.
Ketika pertama kali terjadi, LieneĀ merasa tak bisa bernapas, tetapi hanya sesaat. Seiring waktu, pelukan itu mulai terasa seolah dibuat hanya untuknya. Rasanya sangat menenangkan, membuatnya merasa seolah semuanya akan baik-baik saja.
Saat mereka berhasil berpisah, cahaya fajar sudah menyingsing.
LieneĀ terkejut betapa cepatnya waktu berlalu. Bahkan meskipun mereka tidak melakukan apa-apa, ia terheran-heran bagaimana ia tidak merasa bosan atau hambar saat mereka bersama.
Apa yang terjadi padaku?
Setiap kali ia bersama Black, ia selalu kehilangan jejak waktu. Pertama kalinya ia bertemu seseorang yang bisa membuatnya begitu.
[Kardinal] "ā¦Agar Tuhan akanā¦. Tidak pernahā¦. Lagi⦠Putri? ā¦..Putri!"
Saat LieneĀ tenggelam dalam pikirannya, memikirkan sesuatu yang sama sekali berbeda, tiba-tiba suara KardinalĀ meninggi dan menginterupsi dirinya.
[Liene] "ā¦..Lanjutkan."
LieneĀ tersadar, sedikit memalingkan kepalanya ke arah Kardinal. Ekspresinya begitu tenang, KardinalĀ tak akan menemukan cacat pada wajahnya.
[Liene] "Dan? Untuk apa Anda datang kemari?"
KardinalĀ kemungkinan besar ingin mengatakan bahwa harga yang sangat mahal untuk memperbaiki tangga tidak dapat dibayar oleh Kuil.
[Kardinal] "Anda harus memberikan persembahan agar hal seperti ini tidak pernah terjadi lagi. Dan kekafiran serta kekotoran Tiwakan harus dihukum."
[Liene] "Dan bagaimana kau mengusulkan aku mengatasinya?"
Ia hanya di sini untuk melontarkan lebih banyak omong kosong, lagi.
Siapa lagi yang bisa melakukannya?
KardinalĀ dan Kleinfelter hanya duduk dan memberitahu LieneĀ apa yang harus dilakukan. Keberanian mereka mengesankan. Mereka tak pernah berniat meninggalkan LieneĀ sendirian.
Seperti biasa, mereka sepertinya tak menyadari bahwa keberadaan LieneĀ adalah satu-satunya yang menjaga kerajaan ini tetap aman.
Sepenuhnya tak menyadari, KardinalĀ dengan bangga mengucapkan omong kosongnya.
[Kardinal] "Tunda pernikahan Anda."
Komentar