top of page

A Barbaric Proposal Chapter 18

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 19 Mei 2025
  • 8 menit membaca

Diperbarui: 18 Okt 2025

※Jebakan (2)※

Andai saja LieneĀ butuh alasan, ia punya satu yang bisa digunakan. Sangat mudah untuk mengatakan kalau dirinya merasa tak enak badan karena kehamilan, sehingga tak dapat menghabiskan malam bersama pria itu. Namun, alasannya takkan bertahan lama.

Setelah mengucapkannya, LieneĀ harus segera melahirkan anak begitu mereka menikah. Black akan menjadi ayah biologis sang bayi, tentu saja, tetapi setidaknya anak tersebut akan mewarisi nama keluarga Arsak, sesuai perjanjian mereka, dan kelak menjadi penguasa Nauk berikutnya.

Jika semuanya berjalan sesuai rencana, maka akan menjadi akhir terbaik yang bisa LieneĀ harapkan. Ia memang dipaksa menikah, tetapi setidaknya ia masih bisa melindungi segala yang penting baginya, sambil meminimalkan kerugian yang mungkin terjadi.

…Setidaknya, untuk dirinya sendiri.

Namun, tidak demikian halnya bagi Black. Jika LieneĀ terus membohonginya, pria itu harus hidup tanpa pernah tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya. Memikirkan konsekuensi itu membuat batin dan hati LieneĀ terasa berat, karena alasan yang sama sekali berbeda.

Bahkan jika dapat melindungi Nauk… sanggupkah aku melakukannya…?

[Nyonya Flambard]Ā ā€œApa yang sedang Yang MuliaĀ pikirkan?ā€

Saat imajinasi LieneĀ melayang liar, suara Nyonya Flambard yang ramah berhasil menembus lamunannya.

[Liene]Ā ā€œOh….ā€

[Nyonya Flambard]Ā ā€œBagaimana Yang MuliaĀ akan menolak malam pertama pernikahan?ā€

LieneĀ belum mengambil keputusan.

[Liene]Ā ā€œAku belum yakin.ā€

Alasan yang ia miliki saat ini hanya berlaku hingga siklus demam bulanannya usai. Setelah itu, LieneĀ membutuhkan dalih lain untuk menolak berbagi ranjang dengan pria itu, sampai ia berhasil membereskan semua masalah.

[Liene]Ā ā€œPertama, aku perlu memikirkan….ā€

Tok, tok.

Ketukan tiba-tiba di pintu memotong ucapan Liene.

[Nyonya Flambard]Ā ā€œDia pasti sudah kembali.ā€ Nyonya Flambard segera bangkit berdiri. ā€œAku akan membukakan pintu untuk Yang Mulia. Sebaiknya AndaĀ menenangkan diri sebaik mungkin.ā€

Sambil memperhatikan punggung Nyonya Flambard yang melangkah cepat menuju pintu, LieneĀ dengan lembut mengusap wajahnya dengan telapak tangan untuk menenangkan diri. Namun, usahanya percuma.

[Nyonya Flambard]Ā ā€œYa, saya akan membukakan pintu untuk Anda!ā€ seru Nyonya Flambard sambil membuka pintu, sebelum kemudian menjerit kaget.

[Liene]Ā ā€œNyonya?ā€

Mendengar jeritan wanita itu, LieneĀ melompat berdiri karena terkejut, dan saat ia melihat langsung sumber keterkejutan, seluruh tubuhnya mengeras seperti patung.

Bukan Black yang muncul di ambang pintu.

[Laffit] ā€œAku baru saja mengetahui sesuatu.ā€

Dia adalah Laffit.

Laffit Kleinfelter, satu-satunya orang yang seharusnya tidak berada di sana, kini berdiri di Kastil Nauk.

Laffit menerobos melewati Nyonya Flambard yang tak mampu menghilangkan rasa terkejutnya dan kalang kabut, lalu Laffit membanting pintu di belakangnya dengan keras.

[Laffit] ā€œBenarkah, Putri? Bahwa kau hamil… anakku?ā€

Tentu saja tidak. Dia seharusnya tahu kebenarannya lebih baik dari siapa pun di dunia ini.

[Liene]Ā ā€œPergi. Sekarang juga.ā€ LieneĀ mengangkat tangan, menunjuk pintu dengan sikap menantang. ā€œAku tidak tahu apa yang ada dalam benakmu saat datang ke sini, tetapi prajurit Tiwakan memiliki mata dan telinga di mana-mana, terutama di tempat ini. Seharusnya sudah jelas, jadi pergilah.ā€

[Laffit] ā€œTidak sampai aku mendapatkan jawaban.ā€

Mendengar pria itu melontarkan omong kosong, membuat tulang punggungnya menggigil. LieneĀ mengentakkan kakinya.

[Liene]Ā ā€œApa yang kau bicarakan? Kau seharusnya tahu jawabannya lebih baik dari siapa pun!ā€

[Laffit] ā€œAku tidak tahu! Bagaimana aku bisa tahu apa yang benar?! Kita terpisah lebih dari lima belas hari!ā€

Warna sepenuhnya hilang dari wajah LieneĀ yang memang sudah pucat pasi.

[Liene]Ā ā€œA… apa yang kau bicarakan?ā€

[Laffit] ā€œKau tidak pernah sekalipun mengizinkanku tidur denganmu, Putri. Jadi, apa maksudnya dirimu hamil anakku?ā€

[Liene]Ā ā€œItu….ā€

LieneĀ menggigit bibirnya erat-erat. Ia takut, jika tidak menahan diri, ia mungkin akan melontarkan kata-kata kejam yang belum pernah ia gunakan sebelumnya.

[Liene]Ā ā€œApa kau benar-benar menanyakannya padaku? Kau?ā€

[Laffit] ā€œAku perlu mendengar penjelasan darimu. Apa maksudmu dengan ā€˜anak’?ā€

Sebelum detik ini, tidak pernah terlintas dalam benak LieneĀ bahwa Laffit tidak akan memahami maksudnya. Laffit yang ia kenal takkan pernah sebodoh itu. Jadi, apa yang pria itu lakukan saat ini adalah berusaha memastikan apa yang ingin ia ketahui. Ia ingin mendengar LieneĀ mengatakannya secara lantang.

Bahwa LieneĀ telah berbohong tentang kehamilannya demi menolak lamaran dari Tiwakan. Bahwa ia begitu putus asa untuk menolak lamaran tersebut, sampai-sampai rela berbohong.

[Laffit] ā€œApa kau memberitahu orang barbar itu bahwa kau hamil anakku?ā€ Suara Laffit menjadi penuh kasih sayang dan melankolis setiap kali ia berbicara. ā€œApa kau memberitahunya bahwa hatimu sudah ada yang memiliki? Apa kau memberitahunya bahwa akulah milikmu, dan ayah dari anak masa depanmu?ā€

[Liene]Ā ā€œā€¦ā€

LieneĀ merasa kepalanya semakin pusing. Seolah kebohongan yang ia ucapkan untuk menolak lamaran kini berputar-putar, bermutasi menjadi monster karena semakin banyak orang membicarakannya.

[Laffit] ā€œKau memberitahu binatang itu bahwa kau adalah milikku.ā€

[Liene]Ā ā€œTidak, bukan itu yang ku….ā€

Saat Laffit mendekati dengan tangan terulur seolah ingin memeluknya, LieneĀ mengambil langkah mundur, tetapi ia terus mendekat tanpa ragu.

[Laffit] ā€œApa maksudmu?ā€

[Liene]Ā ā€œAku hanya mengatakan apa yang harus kukatakan untuk menghindari lamaran. Aku tidak berpikir dia akan tetap ingin menikahiku walaupun aku mengatakan aku sudah punya anak.ā€

[Laffit] ā€œSama saja, bukan?ā€

[Liene]Ā ā€œBerbeda.ā€

Liene menolak lamaran bukan karena ia mencintai Laffit Kleinfelter. Itu hanyalah delusi ia Laffit buat untuk menolak kenyataan.

[Laffit] ā€œTidak berbeda. Pria mana pun akan tetap melamarmu.ā€

[Liene]Ā ā€œBerbedaā€¦ā€

LieneĀ berhenti bicara. Terlalu banyak yang ingin ia katakan, tetapi tidak cukup kata untuk mengungkapkannya. Bagaimanapun, seluruh situasi ini sangat membuat frustrasi. Laffit bertingkah seolah perbuatan kejamnya pada Liene tak pernah terjadi, padahal terjadi di rumahnya sendiri.

Bagaimana bisa bertingkah seperti itu? Bahkan masih ada bekas luka di telapak tangannya karena kejadian kemarin.

Dia sudah bertindak terlalu jauh. Laffit telah lupa di mana seharusnya kesetiaannya berada—bahwa LieneĀ adalah anggota keluarga kerajaan dan berhak atas rasa hormat serta ketaatannya.

Tetapi pada akhirnya, Laffit tetaplah seorang Kleinfelter, dan fakta bahwa darah Kleinfelter mengalir dalam nadinya tak terbantahkan. LieneĀ ingin menertawakan dirinya di masa lalu yang pernah percaya bahwa Laffit berbeda.

[Liene]Ā ā€œAku akan menikahi Lord Tiwakan, dan anak yang lahirkan nanti akan mewarisi nama Arsak dan menjadi Raja Nauk berikutnya. Itulah jalan yang kupilih untuk melindungi apa yang penting bagiku.ā€

[Laffit] ā€œTapi kau sudah berbohong bahwa dia anakku. Apa kau benar-benar berpikir monster itu akan membiarkan anak dari pria lain tetap hidup?ā€

[Liene]Ā ā€œDia akan melakukannya. Dia sudah berjanji padaku!.ā€

[Laffit] ā€œKau terlalu naif. Sudah kubilang sebelumnya, bukan? Barbar itu punya rencana balas dendam pada Nauk. Apapun yang terjadi, dia akan memastikan ada pertumpahan darah untuk dendamnya.ā€

[Liene]Ā ā€œJangan mencoba menyampaikan rumor yang belum pasti kebenarannya. Aku sudah bilang tidak percaya. Dia tidak akan pernah menawarkan untuk membuat perjanjian pernikahan jika dia tidak berniat menepati janjinya.ā€

[Laffit] ā€œPerjanjian? Kau sudah membuat perjanjian pernikahan dengan makhluk buas itu? Dia bisa melanggarnya kapan saja dia mau.ā€

[Liene]Ā ā€œMengapa kau bersikeras mempersulit masalah? Tidak akan ada gunanya membuat janji semacam itu jika dia berencana untuk tidak menepatinyaā€

[Laffit] ā€œMungkin dia menjanjikannya untuk memaksamu menerima lamaran.ā€

[Liene]Ā ā€œKau salah.ā€

Mulut LieneĀ terpelintir, membentuk senyum hampa.

[Liene]Ā ā€œKau tahu kalau dia bisa saja mendobrak gerbang, bukan? Dia bisa saja membunuh semua penjaga Kastil Nauk dan menyeretku ke altar jika perlu. Dia tidak harus menulis janji atau membuat janji apa pun untuk memaksaku menjadi pengantinnya jika dia mau.ā€

[Laffit] ā€œLieneā€¦ā€

Wajah Laffit terdistorsi saat LieneĀ menghadapinya. Menatap pria itu, ia mengucapkan kata-kata terakhirnya tanpa sedikit pun rasa bersalah.

[Liene]Ā ā€œJika masih ada kesetiaan dalam dirimu untuk keluarga Arsak atau Nauk, maka tinggalkan tanah ini. Saat ini, aku bukan lagi kekasihmu. Ini adalah perintah dariku sebagai Penguasa Nauk. Jika kau mengerti, maka pergilah.ā€

[Laffit] ā€œBagaimana bisa kau….ā€

Tepat saat Laffit mulai menggertakkan giginya—

[Nyonya Flambard]Ā ā€œYang Mulia!ā€ Suara mendesak Nyonya Flambard menyela di antara keduanya. ā€œKita dalam masalah! Dia sedang dalam perjalanan kembali!ā€

[Liene]Ā ā€œApa?ā€ Tiba-tiba, seperti ada sesuatu yang berderak di dalam hati Liene.

Begitu mendengarnya, LieneĀ mulai mendorong Laffit ke arah jendela besar. Ada pagar di luar yang bisa ia pijak. Memang tidak nyaman, tetapi Laffit harus bersembunyi agar tidak tertangkap. Mereka tidak punya pilihan—sudah terlalu terlambat untuk melarikan diri.


A Barbaric Proposal Chapter 18: Laffit menyusup ke kastil, menuntut Liene mengakui anak yang dikandungnya adalah anaknya. Liene mengusirnya, menegaskan pilihannya pada Black. Liene harus menyembunyikan Laffit tepat saat Black datang dengan napas terengah! Black mengungkapkan kecurigaan: ia tahu tentang putra tidak sah yang menyusup.

LieneĀ mulai menutup jendela, menutupi mulut Laffit dengan tangannya tepat saat ia menyadari pria itu mencoba mengatakan sesuatu.

ā€œJangan membuat suara sedikit pun dan tetaplah diam. Aku tidak akan bisa berbuat apa-apa untukmu jika kau sampai tertangkap.ā€

Klik, klak!

Tepat saat LieneĀ menutup jendela, Nyonya Flambard mengangkat suara dan membuat pengumuman, ā€œYang Mulia, Lord Tiwakan telah tiba.ā€

Langkah kaki.

LieneĀ buru-buru berbalik dari jendela, jantungnya berdebar kencang di dada. Memfokuskan diri, ia menelan kegelisahannya.

[Liene]Ā ā€œBiarkan dia masuk.ā€

[Nyonya Flambard]Ā ā€œBaik, Yang Mulia.ā€ Dengan tangan gemetar, Nyonya Flambard membuka pintu lebar-lebar. ā€œSilakan masuk.ā€

Tanpa memberi LieneĀ kesempatan untuk menenangkan diri, Black memasuki ruangan. Mata birunya menatap lurus ke arahnya dan ia begitu gugup hingga hampir menggigit lidahnya sendiri.

[Black] ā€œApa terjadi sesuatu?ā€

Mata birunya seolah melihat menembus dirinya. Bahkan jika ia tidak punya apa-apa untuk disembunyikan, ia akan tetap merasa gugup.

…Tetaplah tenang. Dia belum melihat apa pun. Semuanya akan baik-baik saja… dia tidak tahu siapa yang bersembunyi di sini.

[Liene]Ā ā€œTidak ada yang istimewa. Mengapa kauĀ bertanya demikian?ā€

[Black] ā€œKauĀ memanggilku.ā€

[Liene]Ā ā€œAku melakukannya?ā€ Mata LieneĀ berkedip kebingungan. Ia tidak begitu mengerti apa yang dibicarakan Black.

[Black] ā€œKupikir ada sesuatu yang kauĀ butuhkan dariku.ā€

[Liene]Ā ā€œOh….ā€

Seketika LieneĀ merasa beban terangkat dari pundaknya. Sepertinya kabar kedatangan Laffit di kastil belum menyebar. Ini hanya tentang pesan yang mereka kirimkan mengenai pengukuran pakaian.

Melepaskan cengkeraman pada roknya, LieneĀ melanjutkan dengan suara tenang.

[Liene]Ā ā€œSaat kami sedang menyesuaikan pakaian, aku menyadari ada beberapa pengukuran yang aku lewatkan. Aku ingin bertemu denganmu lagi agar bisa mendapatkan angka-angka tersebut jika kauĀ punya waktu.ā€

[Black] ā€œPengukuran…. Hanya itu?ā€

[Liene]Ā ā€œYa.ā€

Mata biru Black berkedip perlahan. Meskipun wajahnya terlihat tanpa ekspresi, LieneĀ melihat sedikit kerutan samar di dahinya.

Apa dia kesal? Itu tidak akan mengejutkanku… Aku memang membuatnya kembali untuk sesuatu yang begitu tidak penting. Mungkin itu penyebabnya.

[Black] ā€œā€¦ā€

Namun, sepertinya bukan itu masalahnya. Meskipun LieneĀ tidak bisa memastikan mengapa, tapi Black tidak terlihat marah padanya.

[Black] ā€œKalau begitu, ukurlah.ā€ Mendekati Liene, Black merentangkan tangannya.

[Liene]Ā ā€œSebenarnya kali ini….ā€

Kali ini Nyonya Flambard yang akan melakukannya. Tolong temui dia bukan aku.

Ia perlu mengatakannya, tetapi alih-alih demikian, saat Black mendekat, LieneĀ menatapnya dengan saksama dan matanya langsung tertuju pada wajah sang pria.

…Dan saat itulah ia menyadari ada bau keringat.

Semakin dekat Black, semakin jelas ia bisa mencium bau keringat di tubuh pria itu. Dahi Black lembap, jadi mungkin itulah alasannya, tetapi memikirkannya membuat LieneĀ merasa aneh.

[Liene]Ā ā€œā€¦Apa… apa kauĀ berlari ke sini?ā€ Suara LieneĀ lembut seperti bisikan.

[Black] ā€œYa.ā€

[Liene]Ā ā€œMengapa kau….ā€

[Black] ā€œSeperti yang kukatakan, kupikir kauĀ membutuhkanku.ā€

Swish.

Ketika LieneĀ mendengar suara itu, ia menyadari Black mengangkat tangannya dan menyelipkan jemarinya ke rambutnya. Saat suara gesekan menyentuh telinganya, rasanya lembut dan anehnya menggelitik.

Aneh sekali.

LieneĀ bergumam pada dirinya sendiri. Memikirkan pria yang bersusah payah hingga berkeringat hanya untuk bertemu dengannya setelah mendengar bahwa Liene membutuhkannya. Pria ini rela melakukannya demi Liene…

Sementara itu, aku….

[Liene]Ā ā€œKau membutuhkan pengukuran ini, Lord Tiwakan.ā€

LieneĀ bahkan tidak menyadari bahwa pipinya telah berubah menjadi merah muda yang menawan, atau bahwa suaranya menjadi lebih lembut setiap kali ia berbicara kepada Black.

[Liene]Ā ā€œPakaian tidak akan pas jika aku tidak mendapatkan ukuran yang benar.ā€

[Black] ā€œJika aku tahu hanya itu, aku tidak akan terburu-buru sampai di sini. Aku tidak ingin kauĀ menganggapku orang yang tidak bersih.ā€

[Liene]Ā ā€œTidak seburuk itu.ā€

Bahkan mungkin sebaliknya.

Bau keringatnya memperkuat aroma alami Black. Aromanya menari-nari di ujung hidung Liene, tetapi ia tidak merasa jijik. Sebaliknya, membuat bagian belakang tenggorokannya terasa panas.

…Aku harus menjauh.

Ia tidak ingin Nyonya Flambard menangkap mereka dalam posisi berdekatan.

LieneĀ dengan lembut meletakkan tangannya di dada Black seolah hendak mendorongnya menjauh, tetapi tidak ada kekuatan di baliknya.

[Liene]Ā ā€œAku tidak bisa mengukurmu sampai kauĀ melepaskanku.ā€

[Black] ā€œSebentar lagi.ā€

Black tidak melepaskan Liene, malah menggunakan tangan yang lain untuk menggenggam tangannyaĀ sambil terus menyelipkan jemarinya ke rambut Liene.

[Liene]Ā ā€œApa semuanya baik-baik saja?ā€ Liene bertanya dengan suara pelan, pikirannya masih sangat sadar akan Nyonya Flambard yang menunggu di luar.

[Black] ā€œAku tidak tahu. Kurasa aku hanya terkejut… Bukan, itu bukan kata yang tepat… lebih tepatnya khawatir. Aku punya firasat buruk.ā€

[Liene]Ā ā€œKhawatir?ā€

Ketika ia bertanya apa yang membuatnya merasa khawatir, Black mengencangkan cengkeramannya pada tangan Liene. Tidak menyakitkan, tetapi jelas kuat.

[Black] ā€œAku menerima laporan bahwa putra tidak sah Keluarga Kleinfelter diduga memasuki kastil. Pada saat yang hampir bersamaan, aku diberitahu kauĀ mencariku, Putri. Jadi kupikir ada sesuatu yang terjadi.ā€

…Deg.

Jantung LieneĀ berdebar, sebaris irama hilang seolah jatuh ke dalam dadanya.

Dia tahu….

Hawa dingin menjalar di seluruh tulang punggungnya.

Black melirik ke bawah ke wajah LieneĀ yang pucat pasi saat ia melilitkan rambut emas indah Sang PutriĀ di jemarinya. Apa yang tadinya merupakan sentuhan lembut dan menggelitik, tiba-tiba memiliki makna yang sama sekali berbeda.

Seolah Black sedang mengikat Liene pada dirinya.

Seolah memberitahunya bahwa ia tidak bisa lepas begitu saja dari pria itu.

ā€œApa pengukuran satu-satunya hal yang kauĀ butuhkan dariku?ā€


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page